Cmut’s Ramadhan Diary #6 & #7 : The Power of Kepepet is Amazing

Standar

Lah, kok #6 dan #7 digabung? Iya nih. Karena otak saya sedang mual-mual selama dua hari ini. Tepat seminggu yang lalu, saya diingatkan oleh sebuah pesan bahwa saya harus menyelesaikan naskah first novel. Ajiiibbb! Saya lupa kalo saya belum menyelesaikannya. “ket taon kapan kui?” itu komentar Papahmie dan Dwi, adek saya (Kok bisa samaaaa?? kalian pasti sudah kongkalikong).

Oke, bukannya saya sengaja melupakan, tapi kenyataannya memang terlupakan. Kata seorang inspirator hidup saya, ada banyak pilihan dalam hidup ini, bisa saja kita memilih beberapa. Namun, tetap harus ada prioritas. Nah, mungkin terlalu sadis jika saya katakan, first novel menduduki prioritas kesekian. Karena bukan yang utama, tentu perhatian saya tidak terlalu banyak, tetapi tidak juga mengabaikan. Buktinya, saya membuat 3 storyboard dengan judul dan tema yang berbeda. Tiap storyboard terdapat 2 sinopsis yang berbeda. pusing kan? Apalagi saya >_<

Menurut saya, semua ceritanya flat. Dan anehnya, memang sejak Maret, (percaya atau tidak) saya menderita depresi ringan menyangkut dunia kepenulisan. Hampir tak ada karya. Bahkan saya lupa membuat artikel rutin psikologi remaja untuk mading di kampung sebelah. Semua storyboard yang saya buat, tak ada satu pun yang tertuang ke dalam cerita utuh sebuah novel.

Untungnya, apa yang saya pelajari dari bahan skripsweet membuat saya sadar. Menulis itu berarti menempatkan masalah dalam suatu frame, sehingga kita bisa melihatnya lebih fokus. Satu minggu terapi tidak cukup membuat saya kembali menulis. Ada beberapa hal yang harus dijalani. Banyak tersenyum, banyak diam, dan sedikit ‘egois’.

Kembali ke First Novel. Menulis cerita anak tidak semudah menulis status (ya iyalah!). Maksud saya, menulis cerita anak lebih susah daripada menulis sebuah artikel opini. Tidak bisa sembarangan memasukkan bahasa manusia dewasa ke bahasa anak. Apalagi First novel yang memang ditujukan kepada anak usia 6-8 tahun. Tapi menulis cerita anak itu mengasyikkan. Bebas memainkan imajinasi, kembali ke masa kanak-kanak yang ceria, dan menemukan semangat baru ketika mengingat masa kecil yang damai. Karenanya saya suka menulis cerita anak.(suka tiak berarti passion kan?? Tolong dijawab!)

Pesan dari Mbak Andar yang menanyakan kabar FN saya, bagaikan siraman air seember ketika saya terlelap tidur. Membangunkan tidur panjang tentang tingkatan prioritas yang seharusnya mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Kyaa… kembali saya mengobrak-abrik file dan oret-oretan, juga catatan hasil diskusi saya dengan mbak Lia, editor yang memaniskan naskah saya. Beberapa Masukan darinya sangat berarti bagi saya yang hanya tertarik mengupas permen daripada melirik ide cerita lain. hehehe.

Akhirnya saya memilih meneruskan sebuah storyboard tentang Peri Bulbul, sang ahli membuat mainan. Ide itu tiba-tiba tercetus ketika saya diminta membantu seorang teman untuk menjadi fasilitator dolanan tradisional (donal) di Jambore anak Islam se-Surakarta sebulan yang lalu. Ide muncul dan saya tuliskan menjadi storyboard, tanpa pernah ada eksekusi. dan baru seminggu ini saya geluti kembali.

Ternyata, menulis FN kali ini lebih sulit. Tidak ada teman berbagi dan diskusi (*Nglirik Ayu, Nung dan mb Santi), tidak ada yang mengkritik dan tempat mengadu (*nglirik Papahmi), juga tidak ada lollipop ^_^. Sabtu dan Ahad hingga Senin dan Selasa, storyboard itu hanya berubah menjadi cerita bolah ruwet. Apalagi bapak sakit, tentu saja membuat saya tak pernah tenang. Rabu mulai ada pencerahan. Menggeser tumpukan berkas surat-surat dan skripsweet. Kemudian menulis bebas cerita tentang Peri Bulbul. Benar-benar menulis dengan tangan. Kamis, waktunya membaca kembali sinopsis yang saya buat Rabu kemarin. Hasilnya benar-benar flat. Tidak ada greget seperti menulis cerita Peri Lulu yang pertama.

Hingga malam menjelang. Akhirnya menemukan teman-teman penulis FN di FB. Nyatanya mereka kelimpungan juga macam saya. Kita pun saling menyemangati, meski saya tetap yang terakhir. saya baru nulis Bab 1, mbak Mell sudah Bab 4, mbak vi juga. Tengah malam terlewat dengan tidur di depan laptop. Ya, saya tertidur ketika baru mengarang 3 halaman atau sekitar 4000 karakter dari target 40.000 karakter. Waktu sahur terlewat, dan baru bangun saat adzan subuh berkumandang.Keren kan?

Pagi tadi, keajaiban terjadi. Panik dan berteriak-teriak tentu tak menyelesaikan masalah. Saya hanya bisa berusaha. duduk di depan laptop dan berusaha mengarang. Benar-benar mengarang buta, tanpa peduli storyboard atau sinopsis. Memunculkan kekuatan terakhir yaitu the power of kepepet.  Biasanya Ide cemerlang selalu muncul disaat terjepit. begitulah adanya apa yang saya alami.

The power of kepepet memunculkan tokoh bernama Peri Dungdung yang sangat songong. Meski songong, dia menyelamatkan saya.Mengarang Peri Dungdung lebih seru daripada merasakan lapar. Hingga menjelang siang, tinggal 15.000 karakter yang mesti saya kejar. Masih sempat ngajar di Anak Hebat dan setelah Isya’ baru eksekusi lagi. Saat ini, saya sedang melonggarkan otak. Tinggal nanti diedit dan segera kirim.

Boleh ga ya jika saya mengatakan kalau saya menulis FN ini sehari semalam saja? Hahaha…tidak! saya harus mnyelesaikannya berbulan-bulan, Trial and Learn (bukan Trial and eror). Dan The Power of Kepepet masih menjadi andalan saya.

Tapi jangan coba-coba menggunakan jurus ini untuk mengerjakan tugas kuliah atau skripsi! Percayalah, itu hanya akan membuatmu mendapat bencana. Saya sudah mengalaminya berkali-kali dan tidak pernah kapok. #eh?

Sekian reportase Ramadhan saya. Oiya, tanggal 6 Ramadhan adalah kelahiran saya. Yang sudah mendoakan dan mengucapkan, semoga kalian berbahagia. lebih bahagia lagi kalo memberi saya kado yang banyak.

Terima kasih semuanya. Mohon doanya semoga FN saya kali ini diterima dan segera diterbitkan, kemudian best seller. Aamiin.

Bagi yang belum beli First Novel saya, bisa diperoleh di showroom Tiga Serangkai ^_^

Image

Iklan

11 responses »

  1. eh, nape elu hobi banget sih nglirik gue… gue kan gak ganteng, gue cuman imut doank… ^_^

    gue juga ngrasa, kurangnya kebersamaan n tiadanya oyak2an pengaruh banget sama pughaba nulis gue… kita berempat dulu bagai segerombolan angsa yg me-ngak2 berebutan pughaba dari kisanak2 yg udeh ahli, sampe jadi penyusup sgala… hahaha…

    • huaaaaa…mis yu so beeeetttt, girls!
      merindukan naik kereta ke jogja sambil makan burger dlosoran beralaskan koran. sungguh romantis 🙂
      merindukan gedubrakan bareng2 menuju detik2 pintu gerbang detlen ditutup.
      merindukan pempek ny.kamto traktirane mbak santi. mehehe

  2. mbak mell pake blogspot yaa?
    Webnya mb cmut dicopas aja masukin ke blogroll
    jadi, buka template, pasang gadget yg blogroll, trus masukin deh alamat blog yg mau dtambahin, ntar juga nungul di lamannya mbk mell

    ehm, smoga bisa membantu. . ^_^

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s