Ikhlas itu Nyata

Standar

Aku sebenarnya bingung mau menulis apa hari ini. Secara tiba-tiba muncul kata ikhlas dalam benakku. Ikhlas itu apa ya? ah, tidak. Kali ini aku malas membicarakan ikhlas secara harfiah. Aku cuma menuliskan apa yang ada dalam otakku saja.

Banyak orang mengatakan “Aku ikhlas” dengan mudah, namun belum tentu hatinya bicara demikian. Ikhlas tak berujud, sehingga susah sekali membedakan orang yang benar-benar ikhlas dengan orang yang pura-pura ikhlas. Memberi tanpa mengharap balas budi, atau memberi untuk mendapatkan simpati orang lain yang melihatnya. Benar-benar memaafkan dengan ikhlas ataukah sekedar peredam dendam dengan kata maaf.

Mengikhlaskan barang berharga yang hilang tidak semudah mengikhlaskan uang yang habis untuk belanja baju baru di mall. Mengikhlaskan orang yang kita cintai diambil orang tidak semudah mengikhlaskan sejumput recehan kepada pengamen di biskota.

Ikhlas itu ada dalam ibadah, seharusnya. Perasaan kerelaan yang dalam atas segala ketundukan dan kepatuhan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bukan karena imbalan pahala dan surga, tetapi semata-mata karena keikhlasan cinta kepada-Nya. Sudahkah kita seperti itu? pertanyaan ini menampar sisi terdalam jiwaku. Aku belum ikhlas.

Ibadah bukanlah sekedar rutinitas. Ramadhan bukan untuk dimeriahkan dengan semaraknya masjid-masjid. Memang Ramadhan menjanjikan banyak pahala dan ampunan. Tetapi, bukankah pahala dan ampunan itu hanya untuk orang-orang yang ikhlas? Menurutku percuma saja jika seseorang menargetkan 5 kali khatam selama Ramadhan, namun tidak dilandasi dengan keihlasan karena Allah SWT, dan hanya untuk kebanggaan pribadi.

Tadi aku sholat tarawih, mungkin kurang khusyuk karena aku belum ikhlas. Menjalankannya hanya sebagai rutinitas tanpa memaknai kenapa tarawih hanya dilakukan pada bulan Ramadhan. Aku belum mencantolkan kait cinta pada-Nya secara ikhlas dan tawadhu’. Masih terpikat dengan bisik dunia, janji-janji manis pahala jika dilakukan (sebagai rutinitas). Padahal sebetulnya aku tidak mendapat apa-apa kecuali capek.

Begitu pula berpuasa. Sangat beda rasanya ketika selama puasa, kita berkegiatan dengan ikhlas atau tidak. Keberkahan dari apa yang kita lakukan sebenarnya bisa kita rasakan sendiri saat itu juga. Ada kala timbul rasa nyaman dalam hati ketika kita melakukan hal yang baik dengan ikhlas. dan ada kalanya timbul rasa capek karena kita melakukannya dengan setengah hati.

Sekali lagi, aku menampar diriku sendiri. Ramadhan menyuguhkan berbagai hidangan pahala dan ampunan bagi orang-orang yang banyak beribadah. Namun hanya bagi orang yang melakukannya dengan ikhlas karena mencintai-Nya. Ikhlas itu nyata. Ada dalam setiap desah nafas yang kita hirup dan setiap kedip mata bergerak. Ikhlas itu ada ketika kita meyakini bahwa Dialah sang Maha Cinta. Belajar ikhlas yuk!

Agar setelah lulus dari pesantren ramadhan ini, kita adalah bagian dari orang-orang yang bertaqwa.aamiin ^_^

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s