Cmut’s Ramadhan Diary #2 : Manusia Berencana, Allah SWT yang Menentukan

Standar

Sudah jadi agenda tiap tahun bagi aku, bapak dan adik-adikku, untuk mengisi waktu puasa dengan aktivitas bersama. Tentunya aktivitas yang mengasah kreativitas dan tidak melelahkan. Ramadhan tahun 2009, kami sekeluarga melukis dinding belakang rumah dengan gambar tokoh wayang Arjuna dan ornamen batik aneka rupa. Tahun 2010, Bapak membuat lukisan Hanoman dengan pecahan-pecahan keramik. Tahun lalu, aku dan bapak melukis dinding seng yang menutupi bagian barat toko. Dulu juga pernah, aku dan bapak membuat patung naga yang tidak menyemburkan api, tapi menyemburkan air mancur, di sebuah kolam kecil di sebelah barat rumah.

Ramadhan kali ini, mungkin berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Adik-adikku indekost di luar Solo. Otomatis kegiatan ngabuburit bareng bapak kali ini, cuma aku dan ibuk yang ikutan. hehe

Pigmen cat berwarna merah, kuning, biru, hijau dan ungu serta cat putih dan hitam masih tersisa banyak. Tapi kami berdua bingung, tembok mana lagi yang bisa dioret-oret. Bulan Mei lalu, Bapak melukis gambar pelangi dan pinguin di sekeliling tembok kamar mandi sebagai hadiah ulang tahunku serta menyambut kawan-kawan Pelangi yang akan berkunjung. Setelah itu, cat-cat itu masih menumpuk di gudang.

Namun, bapak sedang tidak ingin melukis. Ada hal penting yang harus dilakukan, yaitu mengecat pagar sebelum lomba kebersihan RT dimulai. hehe. Baiklah, ramadhan kali ini akan diisi dengan mengecat pagar.

Jum’at sore yang cerah. Dengan berbekal amplas dan kain gombal, aku dan bapak mulai membersihkan karat di pagar. Posisi pagar yang berhadapan langsung dengan selokan besar, membuat kami kesulitan. Tak habis akal, bapak memasang beberapa bambu sebagai pijakan. Hampir setengah jam kami mengamplas, tiba-tiba bambu yang diinjak bapak bergeser dan sedikit menggelinding. Hampir saja bapak kehilangan keseimbangan meski tidak jatuh ke selokan ternyata otot pinggangnya agak tertarik dan terasa sakit.

Sakit itu tidak berlangsung lama, karena bapak kembali sibuk mengamplas. Namun, ketika maghrib menjelang, pinggang bapak semakin parah. Hingga sholat tarawih di mushola pun dijalankan dengan menahan rasa sakit. Bapak memutuskan untuk pergi ke tukang pijat langganan bapak keesokan hari. Sebenarnya bapak pernah mengalami sakit pinggang seperti ini dan menjalani terapi akupunktur di RS. Karena besok hari Sabtu, dokter akupunktur tidak ada dalam daftar dokter jaga. Lebih baik pijat dulu untuk mengurangi rasa sakit.

Pastinya aku tidak akan tega membiarkan bapak naik motor sendirian ke rumah si tukang pijat. Namun, bapak selalu menolak jika aku yang memboncengkannya. Akhirnya aku minta bantuan kakak sepupu yang baru pulang kerja shift malam. Sebenarnya kasihan. Tapi bagaimana lagi. Ibuk sekarang harus kuliah tiap weekend. Dan Bapak tidak pernah mau jika aku yang memboncengkannya. alasannya, karena tubuhku kurus sedangkan bapak lumayan subur (perutnya :P), takutnya motornya terjungkal kebelakang karena lebih berat di belakang. Aneh kan? Pernah suatu kali, bapak memeriksakan diri ke RS PKU. Lagi-lagi aku di belakang karena aku diminta menemani. Ketika itu bapak masih kuat motoran sampai RS. Namun begitu masuk ruang periksa, bapak dinyatakan harus opname dan tidak kuat jalan lagi. Tiga hari di RS PKU, akhirnya bapak di rujuk ke RSUD untuk operasi. Hingga beberapa bulan berikutnya, aku diminta menemani beliau tiap kontrol dan tetep harus membonceng di belakang. Deuh, bapak, semoga Diah bisa beliin mobil buat bapak sehingga bisa nganterin bapak kemana saja tanpa takut terjungkal ke belakang karena perbedaan berat badan. aamiin 🙂

Kembali ke kisah Ramadhan kali ini. Selain rencana mengecat pagar, kami juga ada rencana untuk membuat semacam pohon makanan sebagai hidangan lebaran nanti. Setiap tahun, rumah kami selalu open house dan selalu didatangi oleh anak-anak kecil sekampung. Nah, tahun ini, pengennya kami memasang pohon-pohonan yang berbuah dan berdaun makanan kecil seperti permen, snack, coklat dll. Pastinya seru kan?

Namun, kekecewaan hadir di wajah bapak. Rencana-rencana indah itu mungkin tidak akan berjalan lancar. Sakit pinggang bapak memang tidak terlalu parah. Namun, sudah dua hari ini, bapak susah untuk berjalan, beranjak duduk ataupun berdiri. Berjalan harus dituntun, entah pegangan pada pundakku atau ibuk, ataupun dengan memakai tongkat peninggalan almarhum kakek. Mengimami sholat fardhu pun dilakukan bapak sambil duduk. Aku takut bapak harus begini dalam waktu yang lama, karena riwayat sakit pinggang yang dulu, hampir sebulan bapak tidak bisa berjalan.

Lalu, bagaimana dengan rencana-rencana kami? Mana mungkin aku ngecat pagar sendirian tanpa bapak? Terus bagaimana aku mencari, memotong dan menggotong ranting-ranting pohon sendiri? Tentunya tidak akan seseru dan seindah berkarya bersama bapak.

Bapak, cepat sembuh ya. Ini masih hari kedua Ramadhan. masih ada 28 hari lagi untuk kita berkarya.

 

 

 

 

 

 

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s