Di balik Tembok

Standar
Image

Ini tembok kamar adek bungsuku. keren ya?

Tembok itu dinding, dinding itu tembok. Apa sih, Mut?. Hehehe..

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari kehidupan sehari-hari. Tak melulu membuka buku tebal, mendengarkan ceramah dosen atau mengikuti seminar dan pelatihan. Seringkali dari hal-hal sepele yang ada di sekitar kita. Salah satunya tembok.

Tembok yang ada di kamarku berwarna biru. Berhias bunga-bunga hasil kreasi kirigamiku juga sebentuk lukisan awan serta stiker Winnie the pooh. Rame kan? Tapi bukan hiasan apa yang ada di tembok itu, itu sih selera masing-masing. Tembok itu terbuat dari batu bata yang tersusun rapi, direkatkan dengan adonan semen dan pasir yang menjadikannya kuat. Selanjutnya ditutup dengan adonan semen dan pasir, kemudian diperhalus dengan adonan semen dan air. Setelah itu pengecatan. Diawali dengan cat dasar berwarna putih, selanjutnya bisa di cat apa saja sesuai keinginan. Dalam jangka waktu tertentu, cat akan kusam, mengelupas dan kotor. Apa yang kita lakukan? Ya, mengecatnya ulang.

Lalu pelajarannya?

Eum..aku mngibaratkan tembok itu adalah kepribadian manusia. Dibangun dengan cinta keluarga, disusun satu persatu batu bata pendidikan keluarga. Ya, Pendidikan yang paling utama adalah dari keluarga. Penanaman dasar-dasar pengertian kehidupan adalah dari Orang tua. Tidak hanya secara fisik kita diajarkan berdiri, tapi secara mental kita belajar untuk menghadapi ketakutan untuk mencoba berdiri, berjalan bahkan berlari. Tentu saja sesuai pola asuh yang diterapkan di keluarga tersebut. Jika dasar ini kurang kokoh, maka hidup sang anak kelak akan limbung dan kemudian ambruk. Makanya dalam membangun tembok pasti kita jumpai besi-besi (apa ya namanya?). pokoke yang dipakai untuk kerangka tembok itu. Ibaratnya itu ajaran Agama, yang menjadi kerangka utama dalam penanaman karakter anak.

Kemudian, masa penyusunan batu bata telah berlanjut menjadi masa pemolesan dasar. ‘Wajah’ tembok dihaluskan atau istilah jawanya di-lepo. Sama halnya dengan pendidikan karakter manusia. Penghalusan diibaratkan pembiasaan. Anak terbiasa melakukan hal-hal yang positif, maka terlihat halus budi pekertinya. Namun, jika dididik dengan kasar, kurang sabar dalam menghaluskan permukaan tembok, maka lapisan lepo itu mudah pecah dan kurang baik ketika di cat.

Pernahkah kalian mengecat tembok? Tentu pernah kan… Sebelum di cat, tembok dibersihkan, disiram air agar lebih mudah dalam proses pengecatan. Begitu pula dala hidup kita, dalam kondisi yang tenang dan nyaman, pemolesan pada diri kita lebih mengena dan menjadi bagian dari karakter diri. Pemolesan itu berupa pengalaman yang kemudian menghadirkan identitas diri.

Pemolesan cat yang pertama adalah warna cat dasar. Hal ini bertujuan agar warna-warni cat nantinya lebih cerah dan tahan lama. Cat dasar biasanya berwarna putih. Lalu dalam kehidupan artinya apa ya? itulah warna norma dan etika dalam bermasyarakat. Jika warna dasar itu tidak pernah dioleskan, maka warna cat semencolok apapun akan terlihat pucat, kotor dan mudah rapuh.

Terakhir, warna cat yang sesungguhnya. Kita boleh mengecat tembok kamar atau rumah kita dengan warna apapun sesuai keinginan kita. Begitu pula pribadi kita. Ketika kita memilih warna kuning untuk tembok pribadi kita, itulah identitas diri kita, yang ceria dan bersahaja. Warna tembok kepribadian kita dapat kita peroleh dari pengalaman dan pembelajaran. Dari pemaknaan panca indra dan internalisasi ke dalam diri. Siapa sih aku? Pertanyaan ini yang akan memoles tembok pribadi kita dengan warna yang sesuai dengan kita. Juga seringkali ini dihubungkan dengan arti penting kita sebagai manusia yang hidup bermasyarakat. Peran kita apa? Skill kita apa? Inilah yang member warna. Lalu mau ditambah hiasan apapun boleh boleh saja. Aksesoris itu menjadi pemanis kepribadian kita. Menjadi pribadi plus-plus tentu saja punya banyak prestasi dan tentu banyak memajang foto kebersamaan dengan teman-teman terkasihnya di atas tembok. Yeah, pribadi yang menyenangkan, berprestasi dan bermanfaat tentunya akan banyak disukai orang lain.

Tetapi, pernahkah kamu melihat cat yang mengelupas, kusam dan kotor? Atau tembok itu pecah-pecah atau rusak? Kita bisa memperbaikinya. Cat ibarat memory. Memory yang kita ambil pelajarannya. Apakah cat itu bisa hilang seluruhnya? Tidak. Begitu pula dengan memori. Memori tidak akan benar-benar hilang dari pikiran kita. Tapi kita bisa menggosok cat yang mengelupas sehingga terjatuh kemudian dihaluskan. Artinya kita bisa mengurangi pikiran-pikiran yang rusak dan tidak benar (sudah mengelupas). Kemudian kita bisa memolesnya denga cat yang baru dengan warna yang lebih fresh. Memori yang lama akan tertutupi dengan memori yang baru. Kesakitan dan kegagalan yang lama terlah terbuang, terhaluskan dan telah tertutupi oleh semangat baru.

Pemolesan cat-cat pelapis selanjutnya ini tidak membutuhkan cat dasar lagi, sehingga lebih mudah. Cat pelapis ini adalah kegiatan kita mempositifkan diri, melalui bacaan yang bermutu, memotivasi diri dan berpikir positif. Makanya sekarang banyak motivator-motivator  serta pelatihan motivasi, karena kita tak pernah tahu kapan semangat kita memudar dan kusam.

Jika tembok telah rusak, berlubang misalnya. Ini aku ibaratkan sebuah trauma. Bisa saja sebelum dilepo, tembok memang sudah dilubangi terlebih dahulu, inilah trauma masa kecil. Hingga sampai dewasa, trauma itu tak pernah hilang. Bahkan ada pula yang memperngaruhi kekuatan tembok dalam mengarungi kehidupan (goyah). Namun ada pula yang sanggup bertahan meski lubang itu terlihat jelas.

Anyway, begitulah bagaimana aku belajar dari sebuah tembok. Tembok yang kokoh, tembok yang keropos, tembok yang kusam dan tembok yang cantik.

Rawatlah tembokmu dengan kehalusan. Jika kau membersihkan tembok dengan kasar, maka akan terlihat barut-barut luka di tembok itu. segera cari cat yang terindah dan perbaikilah segera ketika ada kerusakan.

Be a Great Wall ^_^

By Cmut

seorang lugu yang suka tersenyum 🙂

Image

Ini lukisan di tembok garasi rumah. hasil duet aku dan bapak.

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s