Aku dan Psikologi Part 1 : Dukun

Standar

Mengenang masa lalu ah…

Dulu sekali, kira-kira jutaan tahun yang lalu (Jiaahh..), lolos SNMPTN adalah hal yang keren. Apalagi, dari belasan teman sekampung yang ikut SNMPTN, cuma aku yang lolos. Membanggakan bukan?

Waktu itu, penyambutan mahasiswa baru di depan rektorat. Aku berdiri di barisan terdepan, di dekat sebuah plakat yang menunjukkan asal fakultas. Tiba-tiba ada 2 orang teman SMA lewat di hadapanku. “Diah, masuk sini juga? jurusan apa?” katanya sambil nglirik ke arah plakat yang bertuliskan KEDOKTERAN. “Wesyeehh, dokter, len!”. Hei, yang benar saja?

Benar, saudara-saudara. Aku masuk ke Fakultas Kedokteran tetapi Program Studi Psikologi.

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata Psikologi?

“Wah, keren dong, bisa baca orang!”

“Ih, asyik banget. Pasti kamu lagi baca pikiranku ya”

“Weleh, takut ah deket-deket kamu, kamu pasti tahu apa yang ku pikirkan”

“Apah?Psikologi? kira-kira aku cocok ga ya bekerja di air?”

Hellooww… saia bukan peramal, bukan dukun, paranormal, cenayang atau semacamnya. Kalo ditanya kayak gitu, sumpah, aku pengen balik kanan dan menjegurkan diri ke ember (eh, gak ding!).

pernah suatu kali, aku bertemu dengan teman sebangkuku semasa SMA. apa tanggapannya? Lebih kejam >_<

“Ga nyangka ya, kamu berjilbab tapi percaya hal-hal yang begituan. ya itu, takhyul-takhyul gitu”

AKu sama sekali ga ngerti sama jalan pikiran dia ataupun persepsinya tentang dunia psikologi. kenapa dia ga mikir, kalo ilmu Psikologi itu sama dengan ilmu perklenikan, ngapain juga dibikin jurusan psikologi di universitas negeri?

Dari tahun pertama kuliah, ga di bis, di rumah, di jalan atau dimanapun, ketika ketemu orang yang menanyakan kuliah dimana dan jurusan apa, pasti ujung-ujungnya minta diramal atau dibaca karakternya. Capek deh!

Meski tak semua orang berpendapat seperti itu sih. Ada juga yang sudah mengetahui arti pentingnya seorang psikolog atau mahasiswa psikologi bagi kehidupannya. Bahkan aku inget ada seorang ibu yang minta saran untuk anaknya yang bandelnya minta ampun. dan waktu itu aku baru semester 1, masih unyu-unyu dan tidak tahu apa-apa. Glek!

Sepertinya, istilah Psikologi bagi masyarakat awam masih bermakna ‘primitif’. Hampir semua mahasiswa psikologi mengalami hal ini. Dan ekspresi pertama kali yang pasti ditunjukkan oleh sang mahasiswa adalah mengernyitkan dahi, tanda ketidakmudengan. Ada yang dengan sabar menjelaskan, ada pula yang segera berlalu meninggalkan orang tersebut, dan itu adalah saia. Aku paling males jika dikatakan aku bisa baca pikiran orang. Kalo orang itu lebih tua dari aku atau orang yang aku hormati, mungkin aku akan bertahan dengan penjelasan-penjelasan logis yang bisa diterimanya. Namun, jika itu teman sebaya, aku bakal balik kanan.

lanjut kapan-kapan deh! ngantuuukk…

next : Aku dan Psikologi Part 2 : 2 telinga dan 1 mulut; Aku dan Psikologi Part 3 : Untuk diriku sendiri

 

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s