Just my Opinion ’bout it ^_^

Standar

Siapa yang tidak mengenal Meyda Safira dan Cholidi Asadil Alam? Yeah, mereka pemeran dalam film KCB, besutan senior FLP, Kang Abik. Tentunya suatu kabar yang luar biasa ketika FLP Solo diberi kesempatan untuk menjadi penyelenggara bedah film terbaru Kang Abik dengan bintang tamu kedua artis tersebut. Wow, mungkin ini pengalaman pertama sejak aku masuk menjadi FLP, dimana FLP menjadi penyelenggara bedah film dan bekerjasama langsung dengan Sinemart. Tawaran yang tentu sangat menggiurkan sekaligus memusingkan bagi panitia ‘dadakan’. Dan suatu hal yang luar biasa pula ketika aku diberi amanah untuk menjadi moderator di acara tersebut. Wadezing! It would be my first time.

Dengan persiapan yang super duper kerja keras dan kilat, panitia begitu antusias mempersiapkan semuanya. Aku bener-bener salut sama beberapa orang panitia yang mungkin bisa diistilahkan “jungker walik” demi terselenggaranya acara ini. Ketua panitia yang merelakan hapenya jebol gara-gara ratusan sms yang masuk serta jempol membengkak akibat membalas sms-sms tersebut. Ada pula duo cowok tangguh yang harus salto-salto saat persiapan acara ^_^ piss, mas bro!. Aku Cuma bantu doa, kawan. Hahaha

Meyda dan Cholidi, tentu saja aku sangat antusias bertemu dan berbincang dengan mereka. begitu pula panitia dan ratusan peserta yang telah melakukan registrasi. Namun, alangkah terkejutnya ketika tengah malam ada sms masuk mengatakan bahwa kedua artis itu batal datang dan hanya satu artis yang datang, Miller. Aku sama sekali tak percaya, hingga pagi harinya segera aku mengecek melalui twitter @CSZmovie. Ternyata benar! Hmm, aku tidak tahu lagi bagaimana menggambarkan kekecewaan panitia mendengar kabar ini. Betapa terpukulnya dan betapa galaunya panitia. Tentu dilemma yang hebat ketika itu. Bagaimana menjelaskan ke sponsor serta ke peserta? Apakah peserta sudah mendengar kabarnya juga melalui twitter? Entah…

Belum lagi kegalauan itu mampir di otakku, sang panitia tangguh tiba2 sms bahwa pihak yang seharusnya mengantar jemput artis tidak dapat menjalankan tugas, kemudian melimpahkannya ke panitia FLP. Padahal bedah film ini tidak hanya diadakan di UNS (FLP) tetapi di tempat lain pula. Akhirnya dia mengambil alih tugas tersebut dan menyerahkan semua persiapan acara ke MC dan moderator. Padahal aku sudah yakin jika narasumbernya laki-laki, maka aku bebas tugas sebagai moderator. Glek!

Bedah Film Cinta Suci Zahrana berjalan lancar sebagaimana adanya. Aku sih ambil positifnya aja. Pihak Sinemart masih bertanggungjawab dengan mendatangkan Miller, meski dalam perjanjian awal Miller tidak dicantumkan. Hanya saja, secara pribadi aku cukup bingung apa dan bagaimana mengajukan pertanyaan yang lebih ‘islami’ kepada beliau. Bukannya apa-apa, namun film ini adalah film religi yang sarat dengan nilai-nilai Islam. Aku khawatir, apa yang muncul dalam pembahasan tidak sesuai dengan nilai Islami yang dimaksud. Akan sedikit berbeda jika pertanyaan-pertanyaan itu aku lontarkan kepada Meyda atau Cholidi yang memang terseleksi sebagai artis film Islami.

Agaknya kekhawatiranku terjadi. Sudah cukup galau melihat wajah kecewa panitia, ditambah galau ketika berinteraksi langsung dengan sang Artis. Meski aku bukannya akhwat yang secara sifat dan penampilan terlihat Islami, aku sungguh kecewa dengan jawaban-jawaban yang diberikan narasumber. “Jadi cewek jangan sok jual mahal” whuatt? Sebagai wanita, aku kok ngerasa ga sreg dengan jawaban itu.

Setahuku (meski belum baca novel itu secara penuh), cerita Zahrana ini adalah cerita kegalauan antara emansipasi wanita dan tuntutan sosial. Cerita kehidupan yang tidak asing di sekitar kita. Berprestasi, cantik, kemapanan materi dan sosial, siapa yang tidak menginginkan? Hanya saja, hidup di masyarakat tidak mudah. Berkeluarga adalah suatu keharusan dalam hidup bermasyarakat. Film ini mengangkat dilemma seorang wanita yang harus memilih antara keinginan untuk segera berkeluarga atau meneruskan kuliah ke luar negeri dan berprestasi. Aku sama sekali tidak menangkap sosok Zahrana adalah seorang yang jual mahal. Hanya saja, dia memang mengikuti ‘jalan’ kesempatan untuk berprestasi daripada menikah di usia muda. Disini ada pembuktian, bahwa hidup itu MEMILIH dari berbagai kesempatan yang dibentangkan di hadapan kita.

Lagi-lagi, aku ambil positifnya aja deh. Miller mungkin tidak menjelaskan pesan moral (secara religious) tentang film ini. Namun, besar harapanku, film ini berpengaruh dalam kehidupannya dan seluruh awak produksi film itu, menjadi lebih intens mempelajari Islam dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya.

Oya, bagi panitia, ini bukan akhir. Ini adalah sebuah awalan untuk menapak ke level yang lebih tinggi. Kekecewaan ini bukan milik pribadi, bukan kesalahan kita sebagai panitia. Tetapi suatu kejadian yang memang diperuntukkan bagi kita untuk menakar kelapangan dada, bersabar dengan cercaan, mengambil pelajaran berharga, menguatkan mental dan menjadi manusia hebat. Semoga ke depannya, kita bisa berusaha lebih baik lagi. Kita pernah jatuh ke suatu lubang, dan kita bangkit. Di depan sana mungkin akan ada lubang yang sama atau lebih besar. Tetapi kita telah menjadi manusia hebat, dimana kita telah mempersiapkan untuk melewatinya dengan mudah, memasang jembatan atau sekedar melompatinya. Kita hebat kok ^_^

Iklan

One response »

  1. Ping-balik: Just my Opinion ’bout it ^_^ « FLP SOLO

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s