Ada apa dengan Kenangan?

Standar

Beberapa waktu yang lalu, ada sms dari seorang sahabat, “Menurutmu, apakah kenangan bisa membuatmu lebih kuat?” (kira-kira seperti itu bahasanya ^_^). aku tak menjawab sms itu. Bukan karena sudah tidur ataupun kehabisan pulsa, namun karena merenung (atau lebih tepatnya melamun). Kenangan membuat diri semakin kuat, benarkah?

Dalam suatu kesempatan yang lain, ada seorang sahabat yang sharing tentang seseorang yang sering dihantui masa lalu. Kenangan masa lalu yang menyedihkan, sekaligus menyenangkan namun sudah selayaknya dilupakan di masa sekarang. Aku tercenung. Dilupakan? bisakah kenangan dilupakan? bukankah semakin kita ingin melupakan sesuatu malah membuat kita semakin mengingatnya?

Di sebuah acara, aku pernah mendengar pembicara menceritakan sebuah kisah, tentang seorang istri yang mengikuti acara reuni SMA. Dalam acara itu, dia bertemu dengan mantan kekasihnya yang sekarang terlihat lebih tampan, kaya dan sempurna dibanding suaminya. Dia larut dalam euforia nostalgia bersama kawan-kawan lamanya. Sepulang dari acara reuni tersebut, si istri berubah sikap, baik terhadap suami maupun anaknya. Suasana euforia itu masih lekat di pikirannya. Suasana mental dimana dia merasa menjalani masa SMA-nya. Suami diacuhkan karena dia merasa kembali ke masa lalu. Akhirnya, si suami membawa istrinya ke Psikiater untuk mendapatkan terapi. Ironis.

Dengan segala kebodohan dan keluguanku (tanpa mengindahkan teori-teori Psikologi yang njlimet, aku pun berkaca pada diri sendiri. Apa aku punya kenangan yang berkesan dan sekarang telah sanggup terlupakan atau minimal tersimpan jauuuhhh di dalam brankas masa lalu? lalu apakah kenangan itu menjadikanku lebih kuat?

Hanya saja, aku teringat beberapa kalimat yang aku tuliskan untuk seorang sahabat dekat, “Hidup kita adalah suatu perjalanan maju. Kita tidak meninggalkan kulit kacang di sepanjang jalan, sehingga kita tidak pernah bisa kembali pulang, meski kita tersesat ataupun ada sesuatu yang tertinggal di belakang. Baik dan buruk kenangan, itu adalah jalan yang pernah kita lalui. Jika dalam perjalanan itu pernah ada lubang, belum tentu kita menemukan lubang yang sama di jalan berikutnya. Tetapi jika kita menemukan jalan yang serupa, kita pernah punya pengalaman sebelumnya, sehingga kita sudah bersiap untuk melompatinya”

Mungkin kita menyesali sebuah kenangan tertentu di masa lalu, apalagi tentang kegagalan, kesalahan dan kesedihan. Selalu saja ada kalimat, “andaikan dulu aku ambil keputusan  yang itu, tentu hidupku tak akan begini”.yeah, seringkali kita menyesali keputusan yang diambil di masa lalu.

Ada kata-kata manis yang menyebutkan bahwa,Kebijakan yang kita ambil di masa lalu, adalah keputusan yang paling bijak yang pernah kita ambil. Jika sekarang kita gagal atau belum mencapai tujuan, bukan karena kita salah mengambil keputusan, tetapi kali ini adalah saatnya kita menentukan kebijakan baru, sebuah keputusan yang lebih bijak. karena mungkin kebijakan di masa lalu sudah tidak berlaku di masa sekarang atau pada masalah yang kita hadapi sekarang.

Dulu kita menemukan persimpangan ketika kita berjalan meraih tujuan. Keputusan kita ke kiri adalah yang terbijak pada waktu itu. Jika sekarang kita tersesat, bukan berarti kita salah mengambil keputusan. Tetapi, kita akan menemukan jalan lain menuju tujuan yang kita inginkan, meski berliku dan terjal, namun kita lebih banyak menikmati pengalaman berharga sebagai orang yangsurvive.

Jadi, apakah kenangan bisa membuatmu kuat atau justru melemahkanmu? tergantung dirimu dalam memaknainya. Tentukan pilihan terbijakmu!

 

diah_cmut

seorang lugu yang suka melamun ^_^

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s