Apa Kamu Suka Curhat? Selamat, kamu Sehat!

Standar

Hai…hai…

Selamat datang di tulisanku. Ini hanya sekedar uneg-uneg semata sebagai obat kejenuhanku.  Sebelum membaca lebih lanjut, aku mau nanya. Apakah kamu tahu apa itu curhat? Atau kamu sering curhat?

Yup, tulisanku kali ini tentang curhat. Tapi tenang saja, aku ga mau curcol kok. Cuma sedikit menganalisis mengenai fenomena curhat.

 

Sebagai manusia yang tidak pernah luput dari masalah, kita seringkali dipertemukan dengan berbagai stressor . Entah itu dari faktor internal maupun faktor eksternal.  Hanya rasa lapar saja bisa jadi satu masalah ketika tidak ada makanan sama sekali, ditambah dompet yang kering kerontang karena tanggal tua. Bahkan hidung buntet sebelah karena flu pun jadi masalah. Betul kan?

 

Bagaimana cara kita untuk menyikapinya, itulah yang memberi label pada masalah itu, berat atau ringan, rumit atau gampang. Kadang kita merasa amat sangat menderita dengan masalah yang kita hadapi.  Perasaan tak berarti, hingga keinginan untuk bunuh diri (Na’udzubillah). Semoga kita bukan termasuk golongan orang-orang yang putus asa.

 

Nah, adalah suatu fitrah bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain, Saling membutuhkan satu sama lain. Seperti halnya ketika seseorang mempunyai masalah. Berbagi masalah adalah salah satu cara sebagai usaha awal penyelesaian. Menceritakan masalah pada seorang teman bisa jadi suatu hal yang berharga. Mungkin masalah yang kita hadapi dapat dipandang dengan sudut pandang orang lain, sehingga kita menemukan solusi yang tepat. Dan inilah yang akrab disebut dengan curhat atau curahan hati.

 

Curhat tak melulu berisi keluhan. Tetapi juga kebingungan dan juga kebahagiaan. Curhat bisa kapan saja, tak melulu ketika sedih. Melalui curhat, kita bisa mengkomunikasikan apa yang sedang terjadi dalam diri kita. Dengan kata lain, kita telah mencoba mengenali pola emosi diri kita dan mampu ‘menerjemahkannya’ pada teman kita.  Karena untuk bercerita kepada orang lain itu tidak mudah. Sangat beda ketika masalah dan emosi itu hanya dipendam dalam hati. Hanya bergumul pada pergolakan batin yang tak kunjung usai. Lama terpendam  menjadi bom waktu hingga akhirnya suatu saat akan meledak. Duuarrr…

 

Di sebuah siaran udara dari Radio Smart Fm tentang Smart Happiness, pak Arvan (seorang motivator), menjelaskan bahwa curhat itu sehat dan menyehatkan. Kok bisa?

 

Pertama, kita bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Teman curhat kita mungkin punya pemikiran dan pandangan yang tidak sama dengan kita. Kadang kala masalah itu datang ketika kita berpikir terlalu sempit. Maka dengan bercerita dengan orang lain, membuka pandangan kita kepada kemungkinan-kemungkian lain yang lebih positif.

 

Kedua, bisa mengidentifikasi masalah. Seperti yang aku jelaskan diatas, mengkomunikasikan masalah kita ke orang lain itu tidak mudah. Kita harus runut dan jelas. Kalau ga jelas, pastinya teman curhat kita akan bingung. Hal ini mendorong kita untuk berpikir lebih sistematis. Merunut sebab dan akibat dengan lebih jelas. Tentu saja ini memudahkan kita untuk menemukan akar masalah kemudian mencabutnya, bukan?

 

Ketiga, kinerja tubuh meningkat. Kenapa?  Ketika menceritakan masalah pada orang lain, selain otak kita yang lebih sistematis, gerakan-gerakan kecil saat bercerita sangat bermanfaat bagi kita. Coba bandingkan jika kita hanya duduk melamun meratapi masalah. Sudah berpikir serba negatif, tubuh juga tak bergerak. Dalam suatu penelitian disebutkan bahwa bercerita itu membutuhkan energi yang cukup banyak. Emosi kadang ikut terluap. Entah itu menangis, marah ataupun tertawa. Dan curhat ini merupakan pelepasan energi negatif dalam diri kita.

 

Dari sebuah penelitian Dr. James Pennebaker pada mahasiswa, disebutkan bahwa menceritakan trauma negatif (kenangan masa lalu yang mengerikan) dapat menaikkan imunitas tubuh. Mahasiswa tersebut jadi lebih lega, merasakan beban yang dimilikinya telah berkurang.

 

Wow, cukup dahsyat bukan?

 

Perlu curhat? Lalu apa yang kita lakukan? Tentu saja mencari tempat curhat. Seringkali orang terdekat yang kita samperin ketika butuh bercerita. Entah itu orang tua, saudara, ataupun sahabat. Tetapi seberapa percayakah kamu kepada orang yang kamu curhati itu? padahal kan sering kali curhatan itu berisi aib diri. Kalo salah orang, bisa-bisa aib kita terbongkar bahkan menjadi bahan gossip (artis kalee…).

 

Pernah ga kalian bertemu orang baru, entah di bis atau di kereta atau di ruang tunggu Rumah sakit? apakah orang tersebut ngobrol dan curcol? Mungkin juga kamu yang curcol? Tenang, hal ini sering terjadi kok. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang semakin maju ini. Banyak orang yang mengeluh di jejaring sosial. Pesbuk, tuiter, blog, milis dll, seringkali kita temui curcol-curcol. mungkin kamu salahn satunya. Hehe.

 

Anyway, kenapa mereka melakukannya? Seseorang mencari aman saja, ketika dia bercerita dengan orang asing. Mungkin ketemu Cuma sekali itu dan orang itu juga tidak akan membocorkannya karena tidak tahu lingkungan curhater. Sangat mungkin orang itu akan melupakannya selepas mereka berpisah. Curhater hanya butuh berbagi, bercerita untuk pelepasan penat. Sedangkan orang asing hanya sekedar tempat sampah saja.

 

Kalo di jejaring sosial, tentu saja curhater butuh berbagi. “What’s on your mind?” pertanyaan Mark Zuckeberg selalu memancing kita untuk membagi perasaan dan pikiran kita melalui pesbuk. Bagi curhater, dia butuh berbagi. Mungkin dengan menulis status keluhan, dia berharap teman-temannya menanggapi dengan memberi saran ataupun hanya sekedar perhatian dengan jempol laik dis.

 

Boleh-boleh saja curhat di dumay. Asal berhati-hati. Jangan sampai kasus Prita terulang lagi. Atau sederhana saja, ada orang yang tersinggung atau terganggu dengan status kita kemudian me-remove dari pertemanan. Sekedar me-remove di dumay sih ga masalah, tetapi me-remove di dunia nyata parah dong. Adakah kalian menemukan update status yang ngeluh melulu kayak dia orang yang paling sengsara di dunia? Jangan-jangan kamu sendiri? Haha.. hati-hati curhat di jejaring sosial! Apa yang kita sharekan merupakan representasi dari pribadi kita. Karena itu keluar dari mindset kita. Iya ga sih? *nyindir diri sendiri nih! Plak!

 

Sebagai penutup, Ini nih, aku kasih tips buat nyari ‘pendengar’ curhat yang baik (di dunia nyata lo ya). Pertama, orang yang paham masalah kita. Dia orang yang benar-benar tahu apa yang kita rasakan. Karena sebagai curhater, kita butuh didengarkan, dimengerti, dan dipahami. Kedua, carilah orang yang bisa kita percaya. Rata-rata orang, setelah mendengar cerita, minimal dia akan menceritakannya lagi kepada 2 orang lain. Tapi tidak semua orang seperti itu. Ada juga orang-orang yang setia menjaga rahasia kita. Ketiga, jangan terlalu banyak orang yang kita curhati. Karena itu bakal merusak kredibilitas kita.

 

Jika kamu termasuk ‘pendengar’ curhat, jadilah orang yang bisa dipercaya. Jadilah pendengar yang baik dan menjadi tempat sharing yang baik.  Kadangkala curhaters hanya butuh didengarkan, namun tak jarang pula yang meminta solusi. Sebagai ‘pendengar’ curhat kita harus pandai membaca situasi curhaters. Jangan sok-sok’an ngasih saran padahal curhater Cuma ingin didengarkan dan diberi perhatian. Saran biasanya malah memunculkan ketidaknyamanan ataupun kemarahan.

 

Emmm… dalam penelitian Pennebaker (lagi), menulis bisa menjadi salah satu cara untuk curhat. Beliau menamakannya sebagai Writing Therapy. Seperti yang sudah aku sebutkan di atas, trauma bisa di minimalkan dengan bercerita. Salah satu teknik bercerita yang dilakukan Pennebaker adalah dengan menulis. Ya, merangkai kata. Menuliskan segala bentuk emosi yang sedang dirasakannya. Maka tak heran jika beberapa orang suka menulis puisi ketika sedang galau, atau menulis status galau untuk membuang penat. Namun, tidak semua orang bisa menulis. Pernah suatu ketika, ada seseorang yang rajin nulis buku harian. Suatu saat putrinya meninggal, dan dia sangat sedih. Dia semakin stress ketika tidak bisa menuliskan kesedihannya dalam tulisan seperti yang sering dia lakukan. Dia mengunjungi Psikiater dan menjalani terapi hypnosis, hingga di akhir sesi dia mampu menuliskannya dan dia kembali hidup normal.

 

Huft…capek euy..hehe

Sekian dulu uneg-unegku. Hanya sekedar pemanasan di pagi yang dingin, membuang rasa malas untuk memulai aktivitas. Semoga bermanfaat :3

selamat bercurhat. heuheu…

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s