Cmut Ramadhan’s Diary#17 : Jenguk Orang yang Habis Melahirkan itu, rasanya……..

Standar

“Titip do’a buat Eni ya,”

“Iya, mas. Udah tanda-tanda ya?”

“Udah bukaan 6,”

 

Sms mas Alib petang itu membuatku berimajinasi. Gimana rasanya ya? buru-buru aku tutup muka, takut. Sumpah, aku takut membayangkan. Hiiiiii…

 

Beberapa waktu lalu, sepupuku, namanya mbak Eni (sama-sama Eni euy…) juga melahirkan putrinya. Aku menjenguk bersama kawan-kawan pengajar TPQ pada suatu malam. Heu…namanya juga ibu-ibu, pasti mengobrolkan masalah kehamilan, dan persalinan yang (katanya) sakit. Aku sebenarnya pengen banget, tidak ikut mendengar pembicaraan mereka. Tapi apa boleh buat, telingaku ada 2 dan semua masih tepasang normal. Meski mengalihkan perhatian dengan bermain sama Faros, anak pertama dari sepupuku, tetep aja selentingan kisah itu masuk juga ke telingaku. *tepok jidat

Kejadian itu terulang, ketika berkunjung ke rumah mas Alib kemarin. Aku sengaja tidak masuk ke kamar mbak Eni (istrinya mas Alib) karena di situ banyak ibu-ibu yang pasti lagi ngobrolin itu. Mending aku kenalan sama cowok ganteng yang bernama Isa di teras rumah. Heuheu… padahal aku belum mandi karena sejak pagi udah ngendon di kampus buat latihan teater, siangnya jalan-jalan nyari mainan buat Isa dan adek bayi. Pede ajalah, ga mandi pun tetep wangi (wangi dari Hongkong…). Semoga Cowok ganteng itu kepencut sama wangiku. Heuheu…

 

Isa Musyaffa, cowok ganteng berusia 2 tahun. Aku penasaraaannn banget sama anak ini, gara-gara cerita mas Alib dan mas Tyo tentang dia. Ternyata, PDKT-nya lumayan susyeh. Udah dibawain mainan sama permen sunduk, ee… gue di tolak. Padahal dideketin 3 cewek cantik gini lo. Usut punya usut, si Isa ini bakal luluh kalo di sogok pake kertas dan pensil. Hadeh. Tepok jidat lagi deh!. Ya, mari nggambar, nak!

Isa dapet gen ‘nggambar’ dari abinya ya? emang nggambar  bersifat genetik ya? sapa bisa jawab?

Belum lagi heranku berakhir, Isa kembali beraksi. Nyalain Netbuk dan minta dibukain ms.office. usia segini, udah bisa baca meski baru beberapa huruf dan belum lancar ngomong. Pake netbuk pula. Subhanallah, mbak Eni hebat. Aku mau meguru ah. ^^,

Akhirnya, Isa mau nempel sama aku. Yeyeye…*jingkrak-jingkrak. Nonton film, main lego, main truk, sampai rebutan adek bayi. Cenung sama Ayuk saingan buat ngrebut perhatian Isa. Hahaha.Seandainya bisa, anak ini mau tak bawa pulang. Menemani kesepianku di rumah. Hiks.

 

Ketika semua orang pergi ke masjid, Akhirnya aku masuk ke kamar mbak Eni, melihat adek bayi dari dekat (tadi Cuma dari depan pintu karena penuh ibu-ibu yang jenguk juga). Disana ada mbak (siapa ya namanya?) Umminya dek Roziq pokoke, dan mbak Umi. Aku masih asyik liat si kecil yang cantik itu, ketika ibu-ibu muda itu sedang membicarakan sesuatu mengenai bayi dan sakitnya jadi ibu. Hadeuh…aku pengen tepok jidat lagi. Berkali-kali nelen ludah. Ternyata, kalo mau jadi ibu itu harus merasakan sakit sebegitu hebatnya ya. Dengan polosnya, aku bertanya ke mbak Eni, “Sakit ya mbak, pas melahirkan?”.  Mbak Eni menjawab dengan penuh semangat (eh?), “uhh, sakit banget. Apalagi pas dijahit, kan ga dibius. Yo aku teriak-teriak!”  Mendadak wajahku berubah pias. Jadi inget emak gue… phew!

Mungkin mbak Eni melihat ketakutanku, dengan ramah dia menjelaskan, “Semua sakit dan lelah akan segera hilang ketika melihat wajahnya” tangannya mengelus pipi merah si cantik. Heuheu…jadi pengen punya bayi, tapi…. Huahhh.. takut ciiinnn.

Tiba-tiba dek roziq bangun, dan lihat kanan kiri nyari Uminya. ‘Jangan nangis ya dek, Umi baru sholat’ bisikku, sambil mencoba menggendongnya. Hmmm…ternyata anak ini mau tak gendong kemana-mana. Hehe. Bisa-bisa tak culik juga nih anak. Sampai dek Roziq pulang, dia Cuma mau salaman sama aku. Heuheu… ternyata aku berbakat jadi babysitter. (?)

Isa datang dan merangsek ke mbak Eni yang lagi menyusui. Mbak Eni dengan lembut menghalau Isa dan bilang, “Kalo dulu Isa dan Abi suka rebutan Umi, sekarang Umi harus dibagi tiga ya,” huhu…so suit. Tenang aja, mbak. Nanti kalo si cantik udah balita, dia bakal nempel sama abinya. Isa tetep nempel uminya. Oedipus Complex dan Elektra Complex. Jadi inget kuliah.heuheu…

 

Aku senang jenguk  manusia baru. Masih bersih, belum ternoda apapun. Terlihat seperti kertas putih yang terhampar. Tinta-tinta kehidupan akan mewarnai perjalanannya. Entah hanya hitam atau sewarna pelangi.

 

Aku senang lihat keluarga yang sedang berbahagia, dianugerahi seorang putra atau putri. Kapan ya aku seperti mereka?

 

Aku senang menjenguk orang yang melahirkan, tapi aku takut mendengar cerita tentang hamil, nyidam, melahirkan dan sebagainya. Apalagi ditakut-takuti (hayo, siapa yang sms aku tadi pagi??)

 

Anyway, terima kasih buat keluarga besar mas Alib dan Mbak Eni, atas kesabarannya menghadapi kerempongan trio permen sunduk dan mbak umi, juga mas Tyo dan orang-orang ituh. Maaf membuat kekacauan dan semakin menggalaukan. Phew…

 

Terima kasih mbak Eni atas ilmunya yang kau bagikan secara tidak langsung. Aku ga jadi takut deh (InsyaAllah). *_*

 

Terima kasih mas Tyo yang sudah menjadi guide kami. Tetaplah jadi mas Tyo yang ku kenal.

 

Oiya, ada Bunda Eni (kok Eni lagi ya?) yang kemarin harus pulang duluan karena ditunggu nak-anaknya di rumah. Heu… Seorang Bunda yang tegar dan penuh semangat.

 

Semoga yang menjenguk kemarin segera menyusul, punya keluarga kecil dan bahagia seperti keluarga mas Alib dan Mbak Eni. Amin.

 

Ayo, Pelangi mantu!

 

NB : terima kasih yang sudah membawakan pesanan saya. Anda begitu aneh malam itu. Sedang sakit gigi ya? atau sakit hati? Semoga bukan karena keugal-ugalan kami.

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s