Cmut’s Ramadhan Diary #6 : Happy Milad, Cmut

Standar

Milad? Ya, 6 Ramadhan ini genap 1 tahun jatah usiaku terpotong. Aku tidak berani menerka, berapa lama lagi aku diijinkan menikmati nafas-Nya. Mungkin setelah ini selesai terketik atau masih menghitung tahun lagi. Tugasku hanya menjalani setiap keping detik untuk ku sulam menjadi anyaman kisah bermakna atau tanpa makna, mengulas ibadah atau berfoya-foya. Selebihnya aku tak berani mengintip apalagi mengeja ketentuannya.

Jika aku berani meminta, aku ingin sekali Tuhan memanggilku dan mencukupkan umurku ketika aku telah melunasi tiket ke surga-Nya. Menebus semua dosa dengan ribuan pahala. Hahaha…suatu pikran yang aneh. Maka sekiranya usiaku akan panjang, karena tiap detik yang ku jalani, sulit terlepas dari ikatan dosa. Astaghfirullah. Maka dari itu aku tak berani meminta.

Sebenarnya aku masih ingin memohon. Ketika aku telah dipanggil, aku tak ingin ‘penerbanganku’ menuju-Nya mengalami delay. Segera saja berangkat tanpa harus menunggu sakaratul maut selesai menyiksa. Bolehkah?

Tetapi tetap saja, aku tak berani mengeja takdir-Nya. Tiap 1 tahun jatah usiaku terpenggal, aku semakin takut. Takut jika saat ini aku harus menghadap-Nya, apakah aku siap? Sedang waktu setahun kemarin, masih banyak tersia-siakan oleh langkah-langkah tanpa arah kepada-Nya. Aku berontak ketika harus mengingat masa lalu yang kelam. Memalukan. Sepertinya saat itu aku berada dalam kungkungan gelap yang seakan tiada berakhir. Sampai ku temukan kembali cahaya-Nya dalam teguran dan ujian-Nya. Takdir dan ketetapan-Nya.

6 Ramadhan  adalah miladku. Lahir di bulan suci menjadi kebanggaan tersendiri. Aku tak berharap kado special, pesta kejutan atau apapun. Kado special tetap dari-Nya. Karena tiap Ramadhan, aku diingatkan untuk kembali mengeja ilmu-Nya, menyerahkan diri sepenuhnya. Aku selalu merindukan saat-saat ini, yang mungkin tak akan ku temui ketika miladku dirayakan -di tanggal yang terdapat dalam KTP- oleh orang tuaku ataupun kawan-kawan terdekat. Sesuatu pengingatan hari lahir yang hanya ku lakukan berdua, hanya aku dan Tuhanku.

Dan Tiap 6 Ramadhan, ada satu pertanyaan muncul di benakku. Apakah ini ramadhan terakhirku? Jika memang benar, betapa bodohnya jika aku menyia-nyiakannya. Kadang kala aku berharap, jika Ramadhan ini tidak dapat ku nikmati sampai akhir karena Allah memanggilku lebih cepat, alangkah bahagia. Seorang Diah Rahmawati, lahir  di Bulan Suci dan meninggal di Bulan Suci. Tapi benarkah orang yang meninggal di Bulan Suci berarti orang yang suci? Entahlah…Wallahu ‘alam.

Tersungkur ku dalam sepertiga-Mu

Menyuruk langkah merapuh menyepuh tobat

Kiranya tlah lelah waktu tersia-sia

Muak menyela dalam dimensi hidup penuh ranjau

Berapa kali aku harus menghatur sujud, Tuhan?

Agar aku kembali menggenggam kedamaian kasih-Mu

Memesra kasih hingga tunai tugasku

“Kemanakah diriku ini?

Berakhir di surga atau di neraka-Mu

Aku tak kan mampu

Apakah diriku ini kan bercahaya

Bersinar di surga-Mu menatap penuh rindu

Aataukah diriku ini kan hangus legam

Terbakar dalam nyala di neraka membara”

(Cermin tak pernah berdusta – Star 5)

 

6 Ramadhan ini, aku ingin mengucap terima kasih sebesar-besarnya kepada guru-guru yang telah membimbingku. baik guru kehidupan sebenarnya : bapak ibu yang amat sangat aku cintai, serta guru formal maupun non formal. terima kasih atas bimbingannya, hingga aku mampu membaca dan menulis cinta. hingga aku tahu arti menghormati dan menghargai. hingga aku tau, masih banyak ilmu yang belum ku gali. hingga aku yakin, kalian adalah superhero yang tak akan pernah terkalahkan oleh zaman. tetaplah bersabar membimbing kenakalanku.

6 Ramadhan ini, aku ingin mengakui semua salah dan khilaf yang telah aku lakukan pada kalian, kawan-kawan, sobat, adik, dan semua orang yang pernah ku sakiti. Adalah seorang diah yang sangat ugal-ugalan, dalam berperilaku ataupun berkata. Maafkan aku, kawan. Maaf sebesar-besar maaf. Mungkin ribuan maaf yang terhatur tak cukup menutup. Tapi hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku bukan Nabi, karena aku manusia biasa yan selalu terikat salah. Maaf.

Terima kasih telah menjadi bagian dari ceritaku pada lembar-lembar masa yang bergulung seiring waktu. Lembar itu menjadi berwarna-warni dengan senyum, tawa, marah dan tangis kalian. Membias pelangi di ujung lembar kisah. Aku bangga mengenal kalian dan aku selalu bilang, “aku tak pernah menyesal mengenal kalian”. Semoga kalian juga tak pernah menyesal mengenalku.

*cmut*

Tertulis dalam ribuan cinta-Nya

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s