Cmut’s Ramadhan diary #5 : Shof Depan = Nenek-nenek

Standar

Ramadhan kali ini, aku dan Bapak sepakat untuk tarawih di dua tempat, di mushola RT dan di masjid. Kenapa demikian? Biar ga bosen dan berjumpa dengan saudara-saudara muslim lain. Sekalligus, ngecek tadarusan adik-adik kecilku yang hanya ada di masjid. Walaupun agak jauh dari rumah, aku lebih suka ke masjid, karena sholat di sana lebih khusyuk karena jauh dari riuhnya lalu lintas jalan raya. Mushola RTku tepat di pinggir jalan. Jadi bisa dibayangkan suara klakson dan deru mobil silih berganti dengan suara amin jama’ah.

Suatu hari, aku dan bapak tarawih di masjid. Begitu masuk, aku selalu heran. Shof depan masih kosong tetapi yang datang belakangan malah berjubel di belakang bahkan di serambi masjid. Seringkali aku mengajak beberapa orang untuk maju, terutama mempersilahkan yang lebih tua dariku. Ketika itu aku mengajak seorang ABG untuk maju ke shof paling depan, karena masih kosong dan sholat hampir dimulai. Dia menolak dan berkata, “Itu kan shofnya nenek-nenek, mbak”. Tepok jidat deh… sejak kapan ya shof masjid ditentukan lewat umur seseorang? Sambil geleng-geleng, aku tetap maju dan menggelar sajadahku di shof paling depan. Sebelum takbirotul ihrom, sempet melirik kanan-kiriku. Bener juga, simbah-simbah semua. Aku hanya bisa berdoa, semoga aku masih diberi usia yang panjang dan masih sanggup menjalankan ibadah sholat berjama’ah di masjid seperti mereka. amin.

Ketika salam, aku memandang ke belakang. Benar saja, di belakangku ada ibu-ibu setengah baya, baru di belakangnya lagi ABG dan teman seusiaku. Meski ada beberapa yang nyelonong kayak aku di barisan yang bukan usianya.

Sebenarnya tidak ada aturan baku di masjid itu. Bahkan orang-orangnya pun juga tidak sengaja melakukan itu. Hanya kebiasaan simbah-simbah itu tidak pernah meninggalkan masjid setelah sholat Maghrib guna menantikan sholat berikutnya. Jadi mereka tetap yang pertama datang dan duduk di shof paling depan. Tetapi begitu bulan puasa datang, mereka pulang dulu untuk makan besar. Akibatnya simbah-simbah sering datang agak terlambat.

Hanya saja, sedikit yang aku sayangkan adalah kenapa remaja-remaja itu sebegitu antinya untuk sholat di shof terdepan? Kemungkinan yang lain adalah karena kalo di depan ga bisa ngobrol. Nah lo, bener lo. Aku pernah menanyai salah satu dan jawabannya simple, “di depan ga ada temennya, mbak. Nanti ga bisa ngobrol”. Sebenernya mau sholat atau mau ngobrol sih? *tepok jidat lagi.

Lalu apakah di masjid lain juga sama? Ah, aku tak tau. Dan aku sudah ngantuk. hooaahhmm

aku ga punya gambar nenek-nenek lagi tarawih. ya udah tak lampirin ini ajah..hehe

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s