Cmut’s Ramadhan Diary #4 : Belajar jadi Anak-anak

Standar

Sudah baca postinganku yang Episode Juli chapter 3? Kalo sudah, Alhamdulillah. Kalo belum, ya sudahlah. Hehehe

Di chapter 3 itu aku bercerita tentang pelatihan kepenulisan yang aku ikuti. Ya First Novel. Pinter… 100 buat kamu! Hahay… sejak saat itu aku berusaha sungguh-sungguh mengerjakannya di samping mengotak-atik skripsi yang di paksa jatuh ke jurang yang paling dalam. Ah, lebay. Biarin.

Novel anak-anak, begitu yang ada di pikiran saat mengublek-ublek (bahasane uwelik…) perpustakaan mini di rumah. Yang ada hanya puluhan koleksi Goosebumps dan Animorph. Pengennya baca lagi novel tentang detektif cilik. Ga ketemu, yowis baca komik Conan. Kenapa sih aku bingung nyari cerita detektif? Sebenarnya aku sedang mencari inspirasi dan menemukan ide -ingat, menemukan bukan mencari ide!- cerita yang lain dari kebanyakan first novel yang berbau fantasi. Synopsis cerita yang ku buat sebelumnya juga sangat fantasi.

Ternyata ga mudah. Karena mindset tentang first novel yang berbau fantasi sudah terlalu melekat di otak dan deadline sudah dekat, aku memutuskan untuk meneruskan berfantasi bersama Peri Lulu dan Lollipopnya. Heuheu…

Perjuangan masih berlanjut. Bercerita sebagai anak-anak itu tidak mudah juga. Harus menggali lebih dalam memory masa kecil yang sudah terlalu dalam terpendam lumpur usia. Bagaimana cara berpikir anak, bagaimana anak berkomunikasi, dan bagaimana anak berimajinasi. Nulis cerita itu sulit ya? tak ada yang tak mudah, mut. Semua butuh usaha. Seminggu yang lalu, aku banyak berinteraksi dengan anak-anak di kampungku. Ngobrol, bermain dan belajar bersama mereka. memposisikan diriku sebagai teman sebaya. tidak mudah juga. Tetep ada hal-hal yang tidak bisa ku mengerti dari bahasa mereka. hmmm… yang penting ada usaha. Mengulak-alik catatan kuliah Psikologi Perkembangan juga, sedikit banyak memahami karakter mereka dan bagaimana lingkungan mempengaruhi perbuatan mereka.

Dan, sinopsiku sudah jadi, meski masih berujud oret-oretan bolpen. Tinggal menuangkannya dalam storyboard. Bismillah.

Jadi inget pesan Kang Tasaro minggu lalu pas ketemu di Gramed, menulis itu layaknya artis. Menulis itu belajar ‘menjadi’ apa yang kita tulis. Jika kita menulis tentang Raja, maka cobalah menjadi raja, berpikir seperti raja dan berkata seperti raja. Jadi kalo bisa diistilahkan, penulis itu harus mampu berkepribadian ganda. Menjadi apapun bisa.

Hmmm…bisakah aku ‘menjadi’ anak-anak lagi? Bisa dong! Lollipop sudah di tangan dan mari menulis lagi!

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s