cmut’s Ramadhan diary #2 : Ujian itu ada, karena Allah Sayang

Standar

Mungkin begitulah sepenggal sms yang bisa ku baca sebelum air menutup retinaku tuk membacanya. Sebuah sms dari seorang sahabat ketika aku dilanda kalut kala itu. Ya, sebuah palu godam raksasa seperti memukul keras ubun-ubunku. Dung…dan aku limbung. Betapa tidak? Sesuatu yang ku pikir ini tangga terakhirku untuk mencapai puncak, ternyata harus bergoncang dan aku pun jatuh ke dasar lagi.

Mengumpulkan serpihan-serpihan pelangi yang satu setengah tahun ku perjuangkan mati-matian, tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi melihat kawan-kawanku telah terbang meninggalkan sarang trisula ini dengan sukacita, menyandang mahkota dan bergelar ilmu. Sakit rasanya. Elang kecil ini begitu rapuh membaca bisikan angin yang senantiasa bernasehat. Bukan karena muak dengan ocehan mereka, tapi karena nasehat itu tak satu pun dapat ku laksanakan dengan baik. Bodohkah aku? Tidak, lagi-lagi sms dari sahabatku yang lain. Aku harus optimis, katanya, karena Allah tahu yang terbaik untukku.

Masalah bukan untuk membuat manusia menjadi terpuruk, depresi dan mati. Tapi untuk membuatnya menjadi kuat dan kaya. Kuat karena terlatih sebagai insan yang tahan banting, sanggup berdiri kembali setelah terjatuh, dan mampu menjalani hal yang baru dengan langkah optimis. Menjadi kaya bukan karena harta, tapi kaya hati. Bersabar, qona’ah dan ikhlas menghadapi tantangan baru, tahapan baru.

Ujian itu ada karena Allah sayang. Allah sayang padaku dan Maha Besar Allah, aku akan dinaikkan derajatku sebagai hamba-Nya. Sama seperti kita sekolah, tiap naik kelas harus ada ujian kenaikan kelas bukan? Makanya aku diberi masalah agar aku belajar menanganinya. Hingga ketika aku mampu melaluinya dengan ridho, Allah memantapkan cinta-Nya dan menaikkanku ke kelas selanjutnya. Semoga dengan semua ini, imanku semakin menebal.

Kekuatan itu hadir mengepakkan sayap-sayap sebagai elang kecil yang sempat terkulai lemas terpasung hujan. Hanya berujud sms-sms dari orang-orang terdekat, mampu menguatkanku tuk tetap tersenyum. Menghitung daun yang dulu sempat ku kumpulkan, menyortirnya dan menjadikannya alas untuk menyusun serpihan pelangi baru dalam kehidupan bertrisula ini. Aku tak akan peduli omongan mereka yang hanya bisa melecehkan dan melemahkan, tapi tak pernah memberi solusi yang bermanfaat.

Terima kasih, sobat. Atas sms-sms yang kalian kirim kala itu, juga tepukan hangat di pundak saat aku kelelahan mengeja waktu, serta doa dan dukungan yang senantiasa terpancar dalam khusyuk diammu.

Wildan, Dana, Desti, Burhan, Nungma, Ayu’, mas Jarot, Pre. Semoga kalian segera mendapatkan apa yang kalian cita-citakan. Amin.

Iklan

2 responses »

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s