cmut’s ramadhan diary : meracau (saran : tidak usah dibaca)

Standar

Ada yang sakit di sini. Melihat ketidaknyamanan dalam lingkungan tempatku beranjak dewasa. Aku benci menjadi sensitif. Tapi kata orang tuaku, itulah uniknya.

Ada yang resah di sini. Mendengar bisik yang terucap lirih tentang suatu persekongkolan, baik dari pihak kiri maupun pihak kanan. Sampai-sampai aku tak tahu, kepada siapa aku mendaratkan dukung.

Sudah 3 hari, perang itu terjadi.

Perang dalam diam

Diam-diam tetapi sedang berperang

Perang untuk menuju kediaman yang lebih diam

Aku semakin muak

Mau sampai kapan aku melihat diam itu membelenggu mereka?

tidakkah mereka rindu tuk sekedar menyapa layaknya sahabat?

Dan satu pertanyaan,

Akankah nantinya aku akan mengalaminya ketika menjalani tahapan hidup yang lebih tinggi bersama belahan jiwa?

Tidak

Karena aku akan memulai berkata ‘maaf’

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s