Episode Juli # Chapter 3

Standar

Chapter III

Di Chapter III ini aku ingin bercerita tentang kepenulisan. Ada 2 acara pelatihan kepenulisan yang aku ikuti pada weekend ketiga di bulan Juli ini. Sungguh weekend yang padat dengan semangat nulis yang meletup-letup. Pelatihan yang pertama adalah Workshop First Novel yang diadakan di Grand Palace Hotel Jogja.

Workshop ini diikuti oleh penulis-penulis hebat, yang membuat hatiku mengkeret. Sumpah. Pas perkenalan, barulah aku sadar, sebenarnya sangat tidak pantas diriku masuk ke ruangan ini bersama mereka yang telah menelorkan puluhan buku. Aku dan trio persun berpandangan, menelan ludah masing-masing dan tertunduk. But it’s ok, kita sama-sama belajar.

Pelatihan ini diisi oleh Pak Bambang Trim selama sehari penuh, tentang bagaimana menulis First Novel, penemuan ide, langkah-langkah, keunikan dll. Oiya, for your info (FYI), first novel disini bukan diartikan sebagai novel pertama yang ditulis oleh penulis, tetapi novel yang pertama kali diberikan pada anak untuk memperkenalkan bacaan yang lebih berat daripada cerita bergambar. Heuheu…bener ga sih? *njawil mbak Santi.

Peserta diberi waktu 3 Minggu untuk menyelesaikan cerita dalam bentuk Sinopsis, Storyboard dan  Bab 1 dari ide cerita yang sudah disetorkan sebelum pelatihan. Dan taukah Anda? Baru tadi siang, aku, mb Santi, Ayuk dan Nungma ketemu sama Papah Kasopa Pahmi untuk mengecek progress kami sekaligus saling mendiskusikan karya kami. Namun, apa yang terjadi? Mengapa mbak Santi, Nungma dan Ayuk jadi lemes bin hopeless gitu ya? yaa… sebagai papah dan Suhu yang baik, mas Fahmi memberi masukan agar cerita kami lain daripada yang lain. Kemungkinan besar, hampir semua peserta akan membuat cerita fantasi anak-anak. Nah, alangkah lebih baik jika kita bikin cerita lain yang tidak terlalu bersinggungan dengan fantasi (karena cerita kita berempat semua bertema fantasi). Analoginya begini, jika kita melihat kertas warna agar cerita kami lain daripada yang lain. Kemungkinan besar, hampir semua peserta akan membuat cerita fantasi anak-anak. Nah, alangkah lebih baik jika kita bikin cerita lain yang tidak terlalu bersinggungan dengan fantasi (karena cerita kita berempat semua bertema fantasi). Analoginya begini, jika kita melihat kertas warna hitam berserakan di meja, mata kita akan lebih tertarik pada warna yang lain. Ada satu warna merah disana, tentu itu yang diambil. Ini analogiku pribadi, membahasakan masukan dari mas Fahmi. Heuheu…ok, aku akan berusaha mencari cerita yang lain ah..

Pelatihan kedua diadakan tanggal 17 Juli di hall kampus Pratama Mulia. Emmm…ini sebenarnya acara besarnya FLP Solo Raya. Namanya Idealogy Creative Writing. Lagi-lagi yang ngisi mas Fahmi. Walau sedikit bosan dengan ‘kegantengannya’, materi yang diberikan sangat, apa ya?, emmm bagus. Hehe. Bagaimana menemukan ide (ingat, menemukan ide bukan mencari ide), mengeksekusi ide, sampai menembus media. Dilanjutkan dengan Writing Challenge, berupa lomba membuat majalah dinding. Huuuaaa…seruuu. Aku sempat jadi pemulung daun sama Apri. Yaa, kita menggunakan daun-daunan untuk menghias madding kita. Walaupun kalah tetep aja sueneng.

Materi dilanjutkan oleh Kang Emji. Ni orang selalu bikin akku nebak-nebak isi otaknya. Beliau menjelaskan tentang digital publishing, yang bikin kita sedikit pusing dan mulut mengerucut. Bahasanya itu lo, emmm gimana ya? berat untuk ukuran orang gaptek kayak aku. Nanya kanan-kiriku, ternyata sama aja. Mereka juga ga mudeng. Tapi lama-lama ngeh juga dengan apa yang dibicarakan. Ya itu Digital Publishing. Contoh gampangnya ya blog ini. Meskipun gratis, tapi tetep jadi ajang untuk berlatih nulis. Tetapi akan lebih hebat jika mengelola semacam majalah online atau apalah gitu, yang bisa mendatangkan keuntungan. Heuheu

Anyway, begitulah pelatihan yang aku jalani weekend itu. Oya satu lagi, sekarang ada jadwal upload karya di grup Laskar Kang Nass dan aku kejatah hari Minggu. Karya tersebut akan di kritik dan diberi masukan oleh kawan-kawan kelas menulis Matapena. Tak jarang pula langsung dinilai oleh Guru Besar Pak Langit Kresna Hariadi dan pak Dharmadi Penyair juga tak lupa Kang Nass sebagai bapak dari anak-anak Laskar Kang Nass.

Awesome deh… mari menulis! Karena pughabaku bernama menulis.

ini nih poto-potonya…

bersama mbak Saptorini

bersama Papah...

di toilet pun tetep poto-poto

mejeng dulu ah...

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s