Episode Juli # chapter 2

Standar

Chapter II

Okey, kegiatan lain di bulan Juli ini adalah outbond. Sebagai trainer amatiran, aku sangat menyukai kegiatan ini. Pada awalnya aku tak menyangka, ternyata kegiatan yang terlihat main-main ini, bisa mendatangkan uang. Heuheu. Syukur Alhamdulillah, semester 6 aku memutuskan untuk mengambil mata kuliah itu. Hingga Dulu sempet punya tim trainer sendiri, yang ku rintis bersama kawan-kawan sekelas. Tetapi kali ini, tinggal aku sendiri. Ya, dengan niatan membantu seorang kawanku yang juga pelatih pencak silat di sebuah SMP negeri di Solo. Dia berencana membuat suatu acara outbond sebagai sarana untuk menyampaikan ‘suatu hal’ kepada anak didiknya. Okelah, akhirnya kita menyusun sebuah pelatihan sederhana buat mereka. aku bilang sederhana, karena memang sederhana. Tidak menuntut suatu pencapaian tujuan psikologis tertentu. Hanya sebagai sarana. Hmmm…inilah aku dengan idealisme yang beku, aku bertahan pada satu keyakinan : bahwa outbond training bukan pelatihan yang main-main. Saat itu moodku sedang diaduk, emosiku sedang tersulut. Dan apa yang terjadi? Aku menyakiti hatinya. Akhirnya, ku sadarkan diri bahwa tak selamanya idealism itu baik. sebagai manusia pembelajar, aku harus bisa fleksibel terhadap segala kemungkinan yang harus ku hadapi. Jika mempertahankan idealism tanpa memandang sekeliling, maka langkahku akan terkoyak. Maafkan aku, Din. Iya, aku yang terlalu idealis.

Senyum kembali menguar, ketika sepakat telah terucap. Tanggal 9 Juli, di taman Balekambang. Pesilat-pesilat cilik itu datang malu-malu (tapi selalu membuatku berdecak kagum). Mengawali outbond dengan segala kerempongan pelatih-pelatihnya yang berulangkali membuatku harus bertepok jidat. Beberapa teman pesilat UNS memang khusus didatangkan untuk membantu kelancaran outbond ini. Sesuai dengan simulasi, kita bertugas di pos masing-masing. Menjalani satu demi satu game dengan senyum ceria. Aku senang bisa outbond lagi setelah sekian lama vakum. Terima kasih, kawan-kawan PSHT UNS, especially Dinda. juga terima kasihku pada adik-adik pesilat cilik SMP 8 dan 17 Solo atas keceriaannya. Maaf atas marah-marahku dan ketidakcethoanku. Aku selalu mengagumi persaudaraan kalian. Pengen rasanya jadi bagian dari kalian, tapi raga tak sanggup berkenan. Tetaplah jadi sahabatku.

Sepulang dari Balkam, sebuah sms datang. Mengajakku untuk mengisi outbond lagi. Kali ini dengan tim yang dibentuk oleh kakak tingkat setahun yang lalu, Selasih namanya. Sama seperti tahun lalu, kita diminta ngisi outbond siswa baru SMA 4. Hmm..beberapa orang kakak tingkat sudah lulus, jadi ada beberapa orang adik tingkat yang baru bergabung. Senangnya bersama mereka, aku belajar hal yang baru. Bukan hanya game baru, tapi juga perspektif baru. Kadangkala kita merasa sudah cukup pintar atau ahli dalam suatu perkara, namun ketika bertemu dengan dunia maka akan ada ilmu baru yang ‘keahlian’ yang kita miliki tak ada apa-apanya. Aku tersenyum saat otakku menyimpulkan hal itu. Ada juga tamparan tegas untukku, bahwa aku harus berkaca sebelum mengkritik orang lain. Karena mungkin saja, kritikan itu lebih tepat untuk diriku sendiri. Maafkan kata-kataku yang menyinggung, kawan. Aku masih belajar.

Demi outbond ini, aku rela pulang malam dengan konsekuensi pandangan marah dari ibu yang sudah meneror lewat sms sejak matahari masih enggan terbenam.  Ibuku memang tipe orang yang mudah khawatir jika anaknya tidak segera pulang saat senja. Padahal aku suka melihat senja sambil naik motor. Mengeja awan jingga dalam kesempurnaan syukur. Beda rasanya jika hanya menikmatinya di rumah, tanpa desir angin, tanpa raungan motor dan siulan klakson, ataupun kicau burung yang memanggil anaknya pulang ke sarang. Ah, mungkin jika kujelaskan pun ibu tidak mau tau. Heuheu..

Lanjut ke chapter III…

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s