Tarian Jariku #2 Aku dan Menulis

Standar

Aku sempat trauma menulis karena tulisanku tidak di muat di media. Dikembalikan pun tidak. Dari 9 karya yang sempat ku kirim, hanya satu yang di muat. Sejak itu aku putuskan untuk menerbitkan secara indie. Yaa.. ada sebuah bulletin karang taruna dimana aku belajar praktis tentang kejurnalistikan. Belajar jadi editor sekaligus akuisisi. Menyeleksi semua tulisan yang masuk ke redaksi, bahkan mempermak tulisan agar menjadi layak baca (versiku). Tentu saja mengisi artikel-artikel yang kosong (dan selalu ada). Sempat merasakan beratnya menjadi pemimpin redaksi. Lembur sampai tengah malam, berita-berita actual belum masuk. Sungguh perjuangan yang sangat berkesan. Bulletin ini diberikan kepada anggota Karang Taruna secara gratis rutin tiap awal bulan. Alangkah sakit hatinya diriku, saat melihat bulletin itu dibuang, diinjak atau dijadikan bungkus kulit kacang ketika pertemuan rutin di gelar. Yah..mungkin minat baca mereka masih kurang atau kualitas bulletin yang sangat amat tidak menarik untuk dibaca. Sayang sekali, tim redaksi harus membubarkan diri setelah berjuang selama 2 tahun. Namun, itu menjadi pembelajaran berarti dalam langkahku mencintai aksara dan menemukan makna persahabatan yang sebenarnya.

Aku bergabung di FLP Agustus tahun 2008, masuk sebagai anggota pelatpulpen angkatan ke-5. Saat itulah, aku mengenal dunia kepenulisan. Sayangnya, follow up dari pelatihan itu tidak berjalan mulus. Sampai ada angkatan ke-6, ada semacam follow up, aku ingin aktif lagi. Belajar menulis lagi setelah lama mendiamkan pena. Mas Aden, guru menulis pertamaku. Beliau yang membantai cerpen pertamaku. Sangat banyak coretan dan kesalahan. Maklumlah cerpen pertama. Selama ini, aku lebih sering menulis puisi dan bahkan saat menjadi redaksi buletin, aku hanya menulis puisi dan reportase kegiatan. Salah satu program FLP adalah Bakar Sate (Bantai Karya sambil Telaah). Biasanya ada satu cerpen yang kita kritisi bersama. Cerpen yang dibedah pun bergantian dari tiap anggota. Inilah rahasiaku. Aku tak pernah berani mengumpulkan cerpen untuk dikritisi. Semua masih tersimpan di lappyku. Aku malu. Mas Suli dan Sotya, kawan-kawan sesama penulis pemula, cerpen mereka begitu bagus. Gaya bahasa dan ide cerita yang kreatif. Cerpen mereka yang bagus –menurutku- ternyata masih banyak koreksi dan kritikan. Lalu bagaimana dengan cerpenku? Hmmm… aku hanya ikut saja dengan cerpen mereka tanpa pernah sekalipun cerpenku dikritisi oleh mereka. begitu pula di kelompok menulisku dengan tentor seorang dosen UNS, mbak Riannawati. Cerpenku juga tidak pernah terbantai. Karena memang pertemuannya hanya berjalan 2 atau 3 kali saja.

Aku kembali trauma menulis. Karena putus asa menulis cerpen yang tidak pernah bisa sebagus mereka. blog di blogspot dan multiply nganggur, walaupun sempat beberapa puisi nangkring di sana. Ada facebook pula yang ku penuhi dengan puisi-puisi katarsis hasil pencetan jempol di keyboard hape. Meski hanya sebentuk tulisan yang tertuang dalam hitungan menit, tetapi lumayan jadi pereda stress. Hehe.. tapi aku merasa belum bisa apa-apa, karena belum menelurkan buku satupun.

Tahun 2010, ada pelatpulpen lagi, angkatan ke-7. Publikasi besar-besaran oleh seorang dedengkot FLP. Hasilnya, peserta mencapai 200 orang. Sangat timpang jika dibandingkan dengan angkatanku yang Cuma 20-an orang. Itu pun tinggal berapa gelintir yang aktif. Dengan angkatan yang baru, maka terciptalah semangat baru. Semangat untuk menulis tentunya. Angkatan 7 ini dibagi menjadi beberapa ranting yaitu ranting UNS, UMS, STAIN, pelajar dan Pelangi. Tiba-tiba kecemburuan menyesaki ruang hatiku. Mau dikemanakan angkatan yang telah lebih dulu bergabung? Aku tak mau tersisihkan sia-sia, meski teman-teman seangkatanku entah gimana kabarnya. Aku nekat gabung di ranting pelangi, yang di fasilitatori oleh Erny, teman dari angkatan 6. Semula canggung juga bersama orang-orang yang telah bekerja dan lebih dewasa. Ah, semoga ini keputusan yang benar.

Pelangi, terdiri dari orang-orang dengan karakter yang lebih santai jika dibandingkan dengan ranting yang lain. Mungkin karena masih mahasiswa, idealismenya masih kuat –yang pernah ku ikuti di UNS-. Aku pikir, inilah teman belajar yang tepat untuk diriku yang sedikit ‘pethakilan’. Benar saja. Selama beberapa pertemuan, aku merasa nyaman. Terutama dengan kegokilan mereka –apalagi kepala sukunya- sangat sinkron dengan karakter sanguinisku yang tak suka terkekang. Semangat menulisku kembali terpompa, dengan jadwal pertemuan tiap Ahad siang dan dengan target menulis karya non fiksi yang runtut dan sistematis.

Kini mereka bagian dari hidupku. Keluarga besar FLP dan keluarga FLP Pelangi.

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s