Tarian Jariku #1

Standar

Aku ingin bercerita. Aku ingin menulis. Maka aku menuliskan ceritaku…

Terinspirasi dari Sang Guru Besar, Kang Nassirun Purwokartun, dengan “Catatan Kaki”nya yang dituliskan dengan ringan dalam waktu satu jam tiap harinya. Aku pun ingin melakukan hal yang sama. Melatih kepekaan membahasakan pancaindraku dalam aksara. Aku punya “Goresan Pena”. Meski mungkin telah ada pendokumentasian hidup ala Supertwin Norma Keisya Avicenna dan Etika Aisya Avicenna dengan “Celoteh Aksara” dan “Catatan Aisya”nya atau Aw Wibowo dengan “Catatan Bolang”, aku tak peduli jika dibilang aku ikut-ikutan atau meniru. Karena ini ceritaku dan ini proses belajarku. Boleh kan aku berbagi?

Aku sadar, aku bukanlah penulis. Aku tak pandai menulis. Makanya aku masih harus berguru pada guru-guru besarku di FLP. Ada mas Aries Adenata, mbak Afifah Afra, mbak Deasylawati, mbak Rian, mbak Ungu Lianza, mbak Nashita Zayn, mas Ranu, mbak Bella, mbak Asri Istiqomah. Mereka adalah guru-guru menulisku yang sangat canggih. Untuk tahun ini, aku ikut kelas pelangi (meski itu ditujukan untuk angkatan 7 umum). Ada mas Fachmy yang senantiasa menemani belajar menulis di setiap Ahad siang. Dari beliau aku belajar bahwa menulis pun butuh target, agar kita tak terbiasa berleha-leha. Meski masih sering aku bermalas-malasan. Namun, semangat menulis selalu terpompa karena keluarga pelangi -dan tentornya- sangat memotivasi dengan keceriaan dan kebanyolan yang mereka hadirkan di setiap pertemuan.
Selain itu, kesempatan emasku bertemu dan menimba ilmu di kelas lanjutan bersama pak Bambang Trim di Tiga Serangkai, mengukuhkan tekadku untuk terus menulis. Dari beliau aku belajar bahwa menulis bukan pekerjaan main-main. Butuh ilmu yang tak semudah meludah. Kemampuan menulis tak bisa langsung tajam. Tapi harus diasah dan dilatih.

Inilah bentuk latihan itu. Satu ilmu besar yang dibagi oleh sang Guru, Kang Nass. Menulis sajalah. Tak perlu pedulikan editan. Tulis saja apa yang kamu pikirkan. Catatan kaki Kang Nass kini sudah hampir seratus (atau mungkin sudah seratus), dan Kang Nass selalu menge-tag aku di dalam notenya itu. Semuanya mengalir saja. Cerita yang ringan namun penuh makna. Tentang perjuangan hidup dan realita nasibnya. Aku kagum.

Sebuah latihan yang sangat menyenangkan untuk menjadi penulis yang hebat. Yaa… menulis saja. Menyisihkan waktu satu jam di sela-sela kesibukan. Tuliskan saja apa yang ada di pikiran. Kalau kata Norma, mendokumentasikan hidup untuk mengikat makna. Aku suka. Karena aku suka, maka aku menirunya. Imitating process. Biarlah orang berkata apa, tapi ini cara belajar yang sederhana namun hebat. Aku ingin jadi penulis hebat seperti mereka, para Guru Besarku. Maka biarkan aku menulis ceritaku. Silakan berkomentar apapun, silakan diambil maknanya jika ada, silakan tersenyum jika aku melucu, silakan mencibir jika tak suka. Juga, aku butuh kritikan, kawan…

Seperti kata Raditya Dika, “Ini cerita gue, apa cerita lo?”

~cmut~

Iklan

mari komen, mari bicara!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s