Obituari Senja

Standar

Biru di pagi itu, terasa ada yang beda. Perasaan tidak enak tanpa tahu sebabnya. Perasaan ini sudah berkubang sejak 2 hari sebelumnya. Tepatnya, saat aku melintasi jalan Solo-Purwodadi dan berpapasan dengan bis kota yang dulu sering aku tumpangi ke sekolah, bersamanya dan teman-teman yang lain. Di hari itu juga, aku memimpikannya dan mereka tentang masa SMA.

Masa SMA yang tak terlupakan. Dia bukan teman satu SMA denganku. Dia hanya seorang cowok dari SMA lain yang sedang naksir berat sama sahabatku. Kebetulan, dia sering naik bis yang sama denganku tiap hari walaupun tujuan kita tak sama. Dulu, aku merasa risih karena dia dekat denganku agar bisa PDKT dengan sahabatku. Tapi lama-lama kami menjadi teman akrab. Aku tak pernah keberatan menyampaikan salam atau menemaninya bertandang ke rumah sahabatku. Dia adalah teman yang menyenangkan.

Hal yang sama dialami oleh teman-teman se-SMAku yang ‘kebetulan’ kenal dengannya. Ya, dia orang yang sangat care. Selain supel, dia tak pernah berhenti membuat orang lain terhibur atau sedikit termotivasi dengan celotehannya selama perjalanan ke sekolah. Bahkan sampai lulus SMA pun, dia tetap menjalin komunikasi denganku. Menelepon untuk sekedar bertanya kabar atau bercerita panjang lebar tentang kehidupannya di kota besar.

Hingga pertengahan Ramadhan lalu, telepon terakhirnya untukku. Aku hanya agak kaget, karena dia meneleponku setelah tarawih. Biasanya dia hanya meneleponku saat pagi hari sebelum kuliah atau berangkat kerja. Kali ini, dia bercerita panjang lebar tentang nostalgia perjuangan cintanya semasa SMA. Ya, aku tahu benar cerita itu. Bagaimana dia harus jatuh dan bangun menggapai cinta pertamanya, hingga bagaimana dia bisa move on untuk membangun cinta yang lain. Cerita konyol masa lalu tentang bis sekolah jam 6 pagi, nongkrong di terminal sampai senja, menyusup di kegiatan sekolah, semuanya membuatku tertawa dan bahagia. Dia juga bercerita tentang kebahagiaannya bersama istrinya yang shalihah. Tentang kehamilan pertama yang tergugur, hingga kehamilan kedua yang sangat dirindukannya.

Di tengah cerita, dia memintaku untuk menuliskan kisahnya menjadi sebuah novel. Dia ingin menginspirasi orang lain bahwa hidup itu harus diperjuangkan, bukan menguatkan kelemahan tetapi memaksimalkan kekuatan. Aku hanya mengiyakan, walau sedikit memprotes, ‘biasanya cerita seperti ini ditulis ketika orang itu sudah tua, pensiun, sukses gitu’. Dia hanya tertawa. Akhirnya, aku berjanji akan mencobanya, tetapi aku harus tahu cerita lengkapnya (karena kita sudah jarang bertemu sejak lulus SMA). dia berjanji akan bertemu denganku ketika pulang kampung akhir tahun. Ya, dia sekarang sudah bisa membeli rumah mungil di Kalimantan Selatan, tempatnya mendulang kesuksesan.

Di akhir teleponnya, dia mendoakanku lebih panjang dari biasanya. Doa yang tulus dan terasa lebih menyejukkan hingga mataku basah. Entahlah, tapi aku baru sadar, dia teman yang luar biasa.

Biru di senja itu, terasa ada yang beda. Senja di Sabtu biru. Sebuah pesan di FB membuat jantungku berdegup keras. Dia meninggal dunia. Dengan gemetar, aku raih handphone kemudian mengirim pesan singkat ke pengirim pesan FB itu. Aku tak percaya! Aku tak percaya! Benar-benar tak dapat dipercaya. Baru kemarin dia berkomentar di status FB-ku. Baru beberapa hari ini, dia banyak berkomunikasi di FB (apdet statusnya lebih banyak dan lebih bijak daripada biasanya). Seakan baru kemarin dia meneleponku. Bahkan sampai sekarang aku masih mengingat jelas suaranya, ketawanya, senyumnya, kegokilannya.

Aku buka wall FB-nya. Penuh dengan ucapan duka cita. Dia meninggal karena serangan jantung. Hal yang tak pernah terduga sebelumnya. Dia tak pernah merokok, minum minuman keras atau yang aneh-aneh. Dia orangnya lurus-lurus saja. Rajin sholat dan ngaji meski tak sampai berjenggot tipis atau bercelana jegrang, kalau kata orang. Dia juga bukan workaholic, istirahat cukup. Tapi, ketetapan-Nya siapa yang bisa menduga?

Hari ini, hari keempat sepeninggalnya, masih ada sms dari teman se-SMA-ku yang mengenalnya sejak SMP. Tak ada yang percaya kalau dia telah meninggal. Aku pun juga. Aku hanya merasa, dia sedang pergi jauh, tanpa pamit, dan akan kembali. Sama seperti kepergiannya dulu ke Ibukota atau ke Pulau Sumatra dan Kalimantan demi memaksimalkan ‘kekuatan’nya. Dia tak pernah pamit, tetapi selalu memberi kabar. Ya, kali ini dia pergi sangat jauh, tanpa pamit, dan tak pernah kembali. Tapi di hatiku, di hati teman-teman yang menyayanginya, di hati istri yang mencintainya, di hati orang tuanya dan keluarga yang mengasihinya, dia tetap hidup.

Hai, Sutrisno. Nama sederhanamu, tak sesederhana pribadimu. Nama sederhanamu, tak sesederhana persahabatan kita. Kau tetap menjadi teman dan sahabat baikku, kami dan semuanya. Suara, canda tawa, airmatamu, masih terekam jelas di ingatanku. Doamu adalah penyemangatku. Terima kasih. Tunggulah kami di alam sana. Kita akan bertemu di surga nanti. Coz friendship never ends.

Mainan Anak yang Tergerus Zaman

Standar

Tadi pagi-pagi sekali, segerombol anak laki-laki berjalan di depan rumah. Bercanda dan tertawa tanpa beban. Mereka berhenti di depan pos ronda dan mulai mengeluarkan benda-benda yang memenuhi kantongnya. Salah satu memegang korek api, kemudian menyalakannya. Satu batang mercon disulut, sambil siap-siap menjauh. Satu tangan menutup telinga, satu tangan menyulut lintingan mercon itu. Dan kemudian…Dorr!

Besok hari Ahad dan anak-anak libur sekolah. Sudah dapat dipastikan suara dar der dor itu akan lebih banyak terdengar. Aku tak habis pikir, apa yang bisa dinikmati dari sebuah mercon?. Kalaupun yang dinikmati adalah suara dor-nya, lalu kenapa mereka tutup telinga ketika menyulut mercon itu? Kalau yang dinikmati bau mercon bakarnya, kenapa harus keluar duit buat beli mercon? pulang aja ke rumah dan cium bau dapur. Beres. Lagian bermain api itu kan bahaya.

Lepas dari mercon-mercon itu, ada permainan yang lebih modern, lebih canggih dan lebih bermutu (katanya). Permainan yang sebenarnya dapat meningkatkan aktivitas kognitif anak dan kemampuan berlogika. Kita dapat dengan mudah menemukannya di komputer, tablet, hingga ponsel. Ya, aplikasi games dalam gadget akhir-akhir ini sangat digemari anak-anak.  Coba kita tanya ke anak-anak, siapa yang tidak mengenal games Angry Birds? Bahkan kita, manusia yang lebih dewasa, juga menyukainya. Termasuk saya :). Aplikasi games di gadget memang digunakan untuk entertain, bersifat refreshing. Namun, bagi anak-anak, menurut saya, amat sangat perlu dibatasi.

Pun tak dapat dipungkiri kemajuan teknologi juga telah menciptakan mainan ‘cerdas’ untuk anak. Kecerdasan berpikir diunggulkan dengan melatih kemampuan otak anak untuk mengatur strategi dalam menyelesaikan permainan tersebut. Kemampuan kognitif meningkat pesat. Namun benarkah itu bermanfaat bagi masa depan anak?

Ada kelemahan dari game modern yang ada saat ini adalah berpeluang mendorong anak menjadi individualistis karena cenderung sibuk dengan dirinya sendiri. Lihat saja, anak lebih banyak menghabiskan waktu bermain dengan gadgetnya. Hal ini juga dikhawatirkan menumbuhkan sikap malas dan kurang sehat. Anak tidak banyak bergerak dan jarang berinteraksi. Menurut kak Seto Mulyadi, dengan maraknya game modern di kalangan anak-anak, Kecerdasan kognitif anak memang berkembang pesat, tapi secara moral dan spiritualnya kurang. Kecerdasan motorik juga bisa terkena imbasnya karena anak menjadi malas berkeringat. Bila begitu, risiko obesitas pun dapat menghampiri.

Sekarang saya mau tanya ke teman-teman semua, dulu permainan tradisional apa yang pernah kalian mainkan? dakon, gobag sodor, engklek, betengan, petak umpet? Lalu tengoklah anak-anak di sekitarmu! Apakah mereka masih memainkannya? Jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah. Padahal permainan tradisional itu secara tidak langsung mengajarkan mentalitas reward and punishment, bagaimana sikap mental anak yang kalah dan harus menerima hukuman dan yang menang mendapatkan hadiah. Hal itu melahirkan mentalitas sportif dalam diri anak-anak tersebut. Selain itu, sosialitas anak-anak terjalin ketika bermain bersama. Kemampuan berinteraksi dengan teman sebaya sangat penting bagi perkembangan kecerdasan emosional anak. Anak harus banyak terstimulasi untuk mudah berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ada juga manfaat kesehatan yang diperoleh dari keringat yang dikeluarkan ketika bermain permainan tradisional tersebut. Ambil contoh permainan betengan, mengharuskan anak-anak untuk berlari cepat, mengatur strategi, bergerak lincah dan pandai berkelit.

Sangat disayangkan permainan tradisional yang begitu bermanfaat harus dikalahkan dengan permainan virtual. Namun kita tidak bisa pula menyalahkan teknologi. Keberadaaan permainan tradisional yang semakin langka juga dikarenakan terbatasnya ruang gerak anak untuk bergerak bebas. Tidak ada tempat yang cukup besar untuk bermain betengan di sekitar rumah. Juga banyak tembok-tembok pembatas antar tetangga yang menyulitkan berinteraksi.

selain itu juga ada faktor pola asuh orang tua. Dimana orang tua memang sengaja memberikan gadget agar anak tidak banyak bermain di luar dengan alasan kotor, berbahaya dan segala kekhawatiran lain. Adapula mentalitas yang diajarkan orang tua bahwa permainan tradisional itu kuno dan tidak mengikuti perkembangan zaman.

Hemm…sudah hampir tengah malam nih.

Anyway, dari sekian panjang tulisan saya, memang masing-masing permainan (baik tradisional maupun modern) ada plus dan minusnya. Setidaknya berpikirlah lebih matang apa yang terbaik untuk anak. Melestarikan permainan tradisional sebagai salah satu aset pembentuk mentalitas generasi penerus. Namun, perkembangan teknologi juga tak bisa dihindari.

Menjadi bijaklah, para orang tua, calon orang tua, pendidik, pengasuh, dan manusia yang peduli dengan generasi penerus bangsa.

*cmut*

seorang lugu yang suka tersenyum

Anak-anak lereng merapi, dimana aku pernah bermain bersama mereka, 2011

Cmut dan Isa dengan game di tablet punya abinya Isa. ^_^

 

Cmut’s Ramadhan Diary #6 & #7 : The Power of Kepepet is Amazing

Standar

Lah, kok #6 dan #7 digabung? Iya nih. Karena otak saya sedang mual-mual selama dua hari ini. Tepat seminggu yang lalu, saya diingatkan oleh sebuah pesan bahwa saya harus menyelesaikan naskah first novel. Ajiiibbb! Saya lupa kalo saya belum menyelesaikannya. “ket taon kapan kui?” itu komentar Papahmie dan Dwi, adek saya (Kok bisa samaaaa?? kalian pasti sudah kongkalikong).

Oke, bukannya saya sengaja melupakan, tapi kenyataannya memang terlupakan. Kata seorang inspirator hidup saya, ada banyak pilihan dalam hidup ini, bisa saja kita memilih beberapa. Namun, tetap harus ada prioritas. Nah, mungkin terlalu sadis jika saya katakan, first novel menduduki prioritas kesekian. Karena bukan yang utama, tentu perhatian saya tidak terlalu banyak, tetapi tidak juga mengabaikan. Buktinya, saya membuat 3 storyboard dengan judul dan tema yang berbeda. Tiap storyboard terdapat 2 sinopsis yang berbeda. pusing kan? Apalagi saya >_<

Menurut saya, semua ceritanya flat. Dan anehnya, memang sejak Maret, (percaya atau tidak) saya menderita depresi ringan menyangkut dunia kepenulisan. Hampir tak ada karya. Bahkan saya lupa membuat artikel rutin psikologi remaja untuk mading di kampung sebelah. Semua storyboard yang saya buat, tak ada satu pun yang tertuang ke dalam cerita utuh sebuah novel.

Untungnya, apa yang saya pelajari dari bahan skripsweet membuat saya sadar. Menulis itu berarti menempatkan masalah dalam suatu frame, sehingga kita bisa melihatnya lebih fokus. Satu minggu terapi tidak cukup membuat saya kembali menulis. Ada beberapa hal yang harus dijalani. Banyak tersenyum, banyak diam, dan sedikit ‘egois’.

Kembali ke First Novel. Menulis cerita anak tidak semudah menulis status (ya iyalah!). Maksud saya, menulis cerita anak lebih susah daripada menulis sebuah artikel opini. Tidak bisa sembarangan memasukkan bahasa manusia dewasa ke bahasa anak. Apalagi First novel yang memang ditujukan kepada anak usia 6-8 tahun. Tapi menulis cerita anak itu mengasyikkan. Bebas memainkan imajinasi, kembali ke masa kanak-kanak yang ceria, dan menemukan semangat baru ketika mengingat masa kecil yang damai. Karenanya saya suka menulis cerita anak.(suka tiak berarti passion kan?? Tolong dijawab!)

Pesan dari Mbak Andar yang menanyakan kabar FN saya, bagaikan siraman air seember ketika saya terlelap tidur. Membangunkan tidur panjang tentang tingkatan prioritas yang seharusnya mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Kyaa… kembali saya mengobrak-abrik file dan oret-oretan, juga catatan hasil diskusi saya dengan mbak Lia, editor yang memaniskan naskah saya. Beberapa Masukan darinya sangat berarti bagi saya yang hanya tertarik mengupas permen daripada melirik ide cerita lain. hehehe.

Akhirnya saya memilih meneruskan sebuah storyboard tentang Peri Bulbul, sang ahli membuat mainan. Ide itu tiba-tiba tercetus ketika saya diminta membantu seorang teman untuk menjadi fasilitator dolanan tradisional (donal) di Jambore anak Islam se-Surakarta sebulan yang lalu. Ide muncul dan saya tuliskan menjadi storyboard, tanpa pernah ada eksekusi. dan baru seminggu ini saya geluti kembali.

Ternyata, menulis FN kali ini lebih sulit. Tidak ada teman berbagi dan diskusi (*Nglirik Ayu, Nung dan mb Santi), tidak ada yang mengkritik dan tempat mengadu (*nglirik Papahmi), juga tidak ada lollipop ^_^. Sabtu dan Ahad hingga Senin dan Selasa, storyboard itu hanya berubah menjadi cerita bolah ruwet. Apalagi bapak sakit, tentu saja membuat saya tak pernah tenang. Rabu mulai ada pencerahan. Menggeser tumpukan berkas surat-surat dan skripsweet. Kemudian menulis bebas cerita tentang Peri Bulbul. Benar-benar menulis dengan tangan. Kamis, waktunya membaca kembali sinopsis yang saya buat Rabu kemarin. Hasilnya benar-benar flat. Tidak ada greget seperti menulis cerita Peri Lulu yang pertama.

Hingga malam menjelang. Akhirnya menemukan teman-teman penulis FN di FB. Nyatanya mereka kelimpungan juga macam saya. Kita pun saling menyemangati, meski saya tetap yang terakhir. saya baru nulis Bab 1, mbak Mell sudah Bab 4, mbak vi juga. Tengah malam terlewat dengan tidur di depan laptop. Ya, saya tertidur ketika baru mengarang 3 halaman atau sekitar 4000 karakter dari target 40.000 karakter. Waktu sahur terlewat, dan baru bangun saat adzan subuh berkumandang.Keren kan?

Pagi tadi, keajaiban terjadi. Panik dan berteriak-teriak tentu tak menyelesaikan masalah. Saya hanya bisa berusaha. duduk di depan laptop dan berusaha mengarang. Benar-benar mengarang buta, tanpa peduli storyboard atau sinopsis. Memunculkan kekuatan terakhir yaitu the power of kepepet.  Biasanya Ide cemerlang selalu muncul disaat terjepit. begitulah adanya apa yang saya alami.

The power of kepepet memunculkan tokoh bernama Peri Dungdung yang sangat songong. Meski songong, dia menyelamatkan saya.Mengarang Peri Dungdung lebih seru daripada merasakan lapar. Hingga menjelang siang, tinggal 15.000 karakter yang mesti saya kejar. Masih sempat ngajar di Anak Hebat dan setelah Isya’ baru eksekusi lagi. Saat ini, saya sedang melonggarkan otak. Tinggal nanti diedit dan segera kirim.

Boleh ga ya jika saya mengatakan kalau saya menulis FN ini sehari semalam saja? Hahaha…tidak! saya harus mnyelesaikannya berbulan-bulan, Trial and Learn (bukan Trial and eror). Dan The Power of Kepepet masih menjadi andalan saya.

Tapi jangan coba-coba menggunakan jurus ini untuk mengerjakan tugas kuliah atau skripsi! Percayalah, itu hanya akan membuatmu mendapat bencana. Saya sudah mengalaminya berkali-kali dan tidak pernah kapok. #eh?

Sekian reportase Ramadhan saya. Oiya, tanggal 6 Ramadhan adalah kelahiran saya. Yang sudah mendoakan dan mengucapkan, semoga kalian berbahagia. lebih bahagia lagi kalo memberi saya kado yang banyak.

Terima kasih semuanya. Mohon doanya semoga FN saya kali ini diterima dan segera diterbitkan, kemudian best seller. Aamiin.

Bagi yang belum beli First Novel saya, bisa diperoleh di showroom Tiga Serangkai ^_^

Image

Mencoba Berpuisi (lagi)

Standar

Berteriaklah!

karena aku takkan mendengarmu

Menangislah!

karena aku takkan mengusap ingusmu

Pukullah!

pun aku takkan membalas

Cacilah!

biar aku tahu, sejauhmana kau mengenalku

mungkin tidaklah sulit bagimu untuk berkata

namun, senyum di ujung bibirmu terlalu sinis menangkap cinta

sesungguhnya, tanpa kau berucap pun aku sudah membaca

bahwa sindiranmu tak berarti menghujam

namun, karena kau cinta

sudah, itu saja

karenanya, ku biarkan kau bersama tingkahmu

karena aku juga cinta

*untuk alter egoku

Belajar dari Jam

Standar

Ada yang punya jam? Aku tahu setiap orang punya jam. Entah jam tangan, jam dinding, jam hape, jam di pojok laptop, atau jam bul. Oke, yang terakhir itu memang bukan spesies perwaktuan. Kenapa nih kita nngomongin jam?

Jam selalu menunjukkan waktu yang benar, kecuali kalo batreinya habis. Hehe. Dalam satu hari, Berapa kali kita melihat kea rah jam? 10 kali, 25 kali? Hampir setiap saat. Bisa dikatakan jam adalah sesuatu yang paling sering dilihat oleh manusia. Namun jam tetaplah jam. Diperhatikan oleh ribuan orang pun dia tidak terlena dan lupa akan tugasnya.

Kadang kala, seseorang senewen di depan jam. Terutama saat kita terlambat melihat ke arah jam. “Huaa…telat lagi nih! Kenapa sih jamnya jalannya cepet banget”. Haha…jam ga pernah mempercepat langkahnya. Dia bergeser detik demi detik dengan rentang waktu yang sama. Kita aja yang tidak bisa mengikuti laju jam.

Tak jarang pula, seseorang  marah-marah sambil menatap jam atau bahkan memukul-mukul jam. Tepatnya ketika orang tersebut sedang menunggu. Konon katanya menunggu adalah pekerjaan paling membosankan. Apalagi apa/siapa yang ditunggu tidak kunjung datang. Dan jam menjadi tempat melampiaskan kekesalan. Padahal jam tidak tahu menahu mengenai keterlambatan siapapun.

Jam juga sempet kena bantingan smackdown atau dilempar barang. Mungkin kalian tahu kapan tepatnya. Yeah, jam hanya melakukan tugasnya untuk membangunkan tuannya agar tidak terlambat.namun sang tuan sepertinya lupa dengan peritahnya sendiri dan merasa jam telah mengganggu tidur nyenyaknya.  Jam yang tahan banting sih oke-oke saja. Tapi kalo sampai hancur berkeping-keping, ya itu resiko.

Aku ini sebenarnya nulis apa ya? aku juga bingung. ~_~

Jam itu hanya sebuah alat yang membantu kita untuk mengatur waktu. Jam tak pernah mengeluh capek meski bekerja siang dan malam. Jam juga tak bisa seenaknya mengubah gaya. Geraknya teratur, tak pernah dipercepat ataupun diperlambat. Jam tak pernah salah dalam menginformasikan waktu.

Waktu tak pernah mempercepat atau memperlambat geraknya karena tentu akan menyulitkan kerja jam. Teratur dan disiplin adalah prinsip dasar waktu. Tergantung bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan keteraturan waktu yang telah mutlak. Jam sebagai pengikat dan pengingat, bahwa manusia (diharapkan) mengikuti keteraturan waktu dalam beraktivitas. Jika manusia disiplin, maka hidup manusia semakin teratur, taraf kebahagiaan semakin tinggi karena kepuasan pribadi juga semakin bertambah. Tidak ada grusa-grusu,  terburu-buru ataupun ugal-ugalan.

Prokrastinasi, penyakit sederhana namun berakibat besar di akhir kisah. Prokrastinasi menjadi contoh paling umum bagi kebanyakan manusia yang tidak menghargai waktu. Banyak berleha-leha, mengabaikan tugas utama kemudian menyesal di kemudian hari karena waktu telah terlewat percuma.

Jangan-jangan kalian belum mengenal istilah Prokrastinasi ? mehehe

Prokarastinasi adalah sikap menunda-nunda, menggampangkan suatu masalah. Menurutku, prokrastinasi terjangkit pada manusia yang over Pede. Dia percaya, pekerjaan/ masalah yang dihadapinya bisa dilakukan dengan waktu yang singkat nanti. Dan dia memilih untuk bermalas-malasan dulu sekarang, baru ketika sudah mepet waktunya, dia berusaha ngebut.

Nah lo, semakin malam semakin ga jelas nih otak!

Kesimpulan aja deh daripada kepanjangan. MAnusia makhluk yang sempurna. Diberi akal untuk banyak berpikir. Salah satunya memikirkan waktu. Kunci sukses manusia adalah disiplin. Disiplin dalam menyesuaikan diri dengan waktu yang ada. Maksimalkan waktu sebaik-baiknya. Mengatur waktu sedemikian rupa agar hidup lebih teratur.

Sama seperti keteraturan yang dicontohkan jam kepada kita. Jam tak pernah salah menginformasikan waktu, karena jam selalu disiplin dan teratur. Jam tak pernah lengah meninggalkan tugas, karena kepedulian pada manusia yang telah menciptakannya.

Jam tak akan membalas marah-marah kita, pukulan kita, smackdown kita kepadanya. Justru itu yang harusnya membuat kita malu sebagai manusia. Jam adalah buatan manusia, lantas kenapa manusia tidak memanfaatkan jam sebagai alat untuk memperbaiki diri dan mendisiplinkan diri? Karena manusia terlalu sombong untuk belajar kepada benda mati di sekitar kita.

Tetap sehat tetap semangat, tangkap semua inspirasi yang beredar di sekitar kita!

Jam dan waktu, tak pernah menjerumuskan kita ke lubang penyesalan asal kita mengikuti irama tarian detik yang setiap saat dia tampilkan.

^_^

Ikhlas itu Nyata

Standar

Aku sebenarnya bingung mau menulis apa hari ini. Secara tiba-tiba muncul kata ikhlas dalam benakku. Ikhlas itu apa ya? ah, tidak. Kali ini aku malas membicarakan ikhlas secara harfiah. Aku cuma menuliskan apa yang ada dalam otakku saja.

Banyak orang mengatakan “Aku ikhlas” dengan mudah, namun belum tentu hatinya bicara demikian. Ikhlas tak berujud, sehingga susah sekali membedakan orang yang benar-benar ikhlas dengan orang yang pura-pura ikhlas. Memberi tanpa mengharap balas budi, atau memberi untuk mendapatkan simpati orang lain yang melihatnya. Benar-benar memaafkan dengan ikhlas ataukah sekedar peredam dendam dengan kata maaf.

Mengikhlaskan barang berharga yang hilang tidak semudah mengikhlaskan uang yang habis untuk belanja baju baru di mall. Mengikhlaskan orang yang kita cintai diambil orang tidak semudah mengikhlaskan sejumput recehan kepada pengamen di biskota.

Ikhlas itu ada dalam ibadah, seharusnya. Perasaan kerelaan yang dalam atas segala ketundukan dan kepatuhan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bukan karena imbalan pahala dan surga, tetapi semata-mata karena keikhlasan cinta kepada-Nya. Sudahkah kita seperti itu? pertanyaan ini menampar sisi terdalam jiwaku. Aku belum ikhlas.

Ibadah bukanlah sekedar rutinitas. Ramadhan bukan untuk dimeriahkan dengan semaraknya masjid-masjid. Memang Ramadhan menjanjikan banyak pahala dan ampunan. Tetapi, bukankah pahala dan ampunan itu hanya untuk orang-orang yang ikhlas? Menurutku percuma saja jika seseorang menargetkan 5 kali khatam selama Ramadhan, namun tidak dilandasi dengan keihlasan karena Allah SWT, dan hanya untuk kebanggaan pribadi.

Tadi aku sholat tarawih, mungkin kurang khusyuk karena aku belum ikhlas. Menjalankannya hanya sebagai rutinitas tanpa memaknai kenapa tarawih hanya dilakukan pada bulan Ramadhan. Aku belum mencantolkan kait cinta pada-Nya secara ikhlas dan tawadhu’. Masih terpikat dengan bisik dunia, janji-janji manis pahala jika dilakukan (sebagai rutinitas). Padahal sebetulnya aku tidak mendapat apa-apa kecuali capek.

Begitu pula berpuasa. Sangat beda rasanya ketika selama puasa, kita berkegiatan dengan ikhlas atau tidak. Keberkahan dari apa yang kita lakukan sebenarnya bisa kita rasakan sendiri saat itu juga. Ada kala timbul rasa nyaman dalam hati ketika kita melakukan hal yang baik dengan ikhlas. dan ada kalanya timbul rasa capek karena kita melakukannya dengan setengah hati.

Sekali lagi, aku menampar diriku sendiri. Ramadhan menyuguhkan berbagai hidangan pahala dan ampunan bagi orang-orang yang banyak beribadah. Namun hanya bagi orang yang melakukannya dengan ikhlas karena mencintai-Nya. Ikhlas itu nyata. Ada dalam setiap desah nafas yang kita hirup dan setiap kedip mata bergerak. Ikhlas itu ada ketika kita meyakini bahwa Dialah sang Maha Cinta. Belajar ikhlas yuk!

Agar setelah lulus dari pesantren ramadhan ini, kita adalah bagian dari orang-orang yang bertaqwa.aamiin ^_^